ASTAGA.. AKU DIKHITBAH..!!


 

 

”Bapak hanya menyampaikan amanat. Tolong dibaca saja, tapi tidak usah dipikirkan sekarang. Di-ilga’ saja dulu sampai kamu sudah selesai kuliah dan udah jelas mau nglakuin apa.”

Tiba-tiba malam terasa begitu dingin ku rasakan. Beku!

***

Hot-virus yang sedang melanda kampus sekolahku bernama ’nikah dini’. Begitu panasnya, sehingga gosip siapa mengkhitbah siapa seperti kutu loncat. Mudah sekali muncul dan cepat tersebar. Begitu membaranya semangat mereka (terutama para calon ayah) untuk nikah dini. Sampai-sampai diadakanlah seminar regional membahas khusus tentang ’nikah dini’. Nikah dini lagi di atas daun. Lagi trend!.

”eh, tau ngak si Itu mau mengkhitbah si Ani lho..”

Ada lagi.

”si Anu ditolak lagi.”

Tambah runyam.

”si A ama si B saling rebutan akhwat yang mau dikhitbah..”

Bla.. bla.. bla..

Heboh sekali!

Jadilah ku sebagai pendengar sejati teman sekamarku yang memang peri gosip. Channelnya di mana-mana. Benar atau ngak, aku tidak ambil pusing. Keseringan nginap di rumah daripada di asrama ada untungnya juga, ku gak terlalu dipusingkan dengan berita-berita seperti itu. Headline news mulu.

Hati-hati Lya! Kamu pasti juga kena, lihat saja menjelang perpisahan nanti.” Suara hatiku berkata. Entah darimana ku dapat ilham seyakin itu. Mang punya bakat paranormal kali ya?! J

Ah, ngak mungkin. Secara, ku gak ada bakat-bakatnya jadi akhwat. Pake kudung aja cuma sebahu lebih dikit, hafalan al-Quran nol, ibadah juga kurang-kurang tambah (maksudnya??), kaos kaki kadang hilang entah ke mana (sengaja ngak diketemukanJ), ikut organisasi keagamaan kampus juga ngak. Apa istimewanya?! Masuk golongan murtad kali ya?! J

Sudah jelas ngak mungkin aku jadi target. Sekali lagi tidak mungkin.

Ah.. ku terlalu sering mengingkari hati nurani sendiri.

Alert 14: dengarkan hati nuranimu, percayai instingmu dan telaah apa yang terlihat di pandangmu.

***

Pelajaran fiqh kali ini dengan Bapak yang mungkin menjadi guru paling favorit bagi kebanyakan murid di sekolah. Tapi bagiku, bapak itu tidak terlalu favorit amat lah. But, dia memang sosok seorang guru yang pantas dihormati karena prinsip dan komitmennya.

Pelajaran fiqh kelas tiga ini selalu menjadi pelajaran yang paling favorit, entah karena bapak yang ngajar atau mungkin karena materinya. Apalagi kalau bukan tentang ’nikah’. Yakin, mata yang lagi ngantuk berat pasti melek lagi.

Enaknya lagi, bukan cuma mata pelajaran fiqh saja yang membahas tentang nikah-nikah begini, mata pelajaran al-Quran, hadis dan akhlak pun tak ingin kalah. Ah! Tampaknya kami benar-benar dibekali sekali untuk menempuh hidup yang baru kelak.

”lelaki itu suka pada perempuan.. dan berkeinginan untuk mengkhitbahnya.. ada yang karena dia cantik.., pintar.., baik.. Yah seperti itulah.” jelas Bapak sembari menoleh aneh kepadaku. Apa yang Bapak maksud itu aku?

”Berhati-hatilah Lya”. Ah, ngak mungkin!

Secara, kalau untuk ukuran cantik, kayaknya teman-teman yang pada pintar dan baik di lokal ini juga pada cantik semua. Setidaknya bisa dibilang menarik.

Tapi tatapan Bapak itu seperti ingin berkata, ”it’s you, Lya.”

Lupakan. Fokus studi!

Lagipula, kalau memang itu aku, rasanya ku bakalan ngak suka pada orang itu. Betapa tidak, standar dia mencari isteri saja standar perfect yang dipakainya. ’cantik’ pula tu duluan yang jadi standar pertama.

Benar kata orang, kebanyakan ikhwan juga menerapkan standar yang kadang ngak agamis ketika milih isteri. Maunya perfect, dapat ke empat kriteria yang ada di dalam hadis. ”pilihlah perempuan karena keturunan, kekayaan, kecantikan dan agamanya.” Kebanyakan mereka berpegang sampai di sana saja, lupa pada kelanjutan hadisnya.

Menerapkan standar perfect karena merasa diri sendiri sudah perfect. Sempurna.

Alert 15: lebih baik cari lelaki yang tidak mengerti dan mengetahui hadis itu. Kadar cintanya lebih teruji murni.

Ku kembali cuek seperti biasa. Tidak mungkin ada yang mengkhitbahku.

***

Aku gugup sekali begitu Bapak menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Ini kali ketiga ku menerima surat. Surat cinta ketika tsanawiyah; surat cinta kaleng; dan surat khitbah.

Aku sudah mendapat firasat tidak baik ketika Bapak secara khusus menemuiku dan menyuruh ku supaya ke rumahnya. Pasti aku kena hot-virus deh. Ya Allah jangan Lya donk. Kenapa Lya dapat masalah ini juga sih..?! Apalagi sebentar lagi mau ujian akhir.

Akhirnya ku baca juga surat itu di hadapan Bapak. Tubuhku panas dingin membacanya. Sekali ini lah pengalamanku membaca surat penyataan rasa dari seorang lelaki sekaligus pertanyaan atas kesediaanku menjadi isterinya. Permintaan double. Kuberi nama: surat khitbah. Sekali ini. Tubuhku serasa berada di dunia lain. Tak percaya. Andai ini tak perlu kulalui.

”jadi bagaimana?”

Hah.. apa Bapak sedang bertanya kepadaku. Apa yang mesti ku jawab. Tak ada. Bingung.

Ya Tuhan.

”Lya jadinya kuliah kemana?” tanya Bapak.

”yah, Lya tetap di sini Bapak. Mengikuti kemauan orang tua saja.”

”ya sudah. Kalau menurut Bapak ini tidak perlu dipikirkan dulu. Lya lebih baik kuliah dulu baik-baik, penuhi apa permintaan orang tua. Insyaallah kalau nanti sudah tiba jodohnya Lya, tentunya orang tua akan lebih mudah menyeleksi siapa yang bakal menjadi menantunya nanti.” lanjut Bapak sambil tersenyum.

”Nanti, biar Bapak saja yang memberi jawaban padanya. Atau Lya mau memberi jawaban langsung padanya??”

Hah.. aku terkejut lagi. Bingung. ”emm.. tidak usah Pak. Lya serahin ke Bapak saja.” kalau ku yang ngasih jawaban padanya, wah.. ku pasti bakal jadi korban orang satu sekolahan. Jadi korban gosip! Ga mau ah!

Sudah. Begitu saja nasib cerita khitbahku for the very first time.

”suratnya dirobek saja Lya, daripada nanti teman-teman Lya tahu.”

Aduh.. berat hati sebenarnya ngrobek surat ini. Soalnya belum kebaca benar. Tapi ya sudahlah, daripada ntar Bapak mikirnya Lya pengen juga. Jadinya, ya sudahlah!

Ku robek surat itu.

***

”Rey..!!” ku masuk kamar dengan senyuman paling lebar.

”ternyata firasat Lya benar.” sebelum ke rumah Bapak, aku sempat utarain firasat ku ke roommate ku ini. [Jangan-jangan aku ’ditanyai’ orang, Rey!]

Teman sekamarku tak bisa lagi menahan diri. Dia terkejut habis-habisan. Ciri khasnya kalau terkejut: berteriak seperti ini, ”HAAAAA…!!!!” setelah itu dia tertawa ngakak. Wakakakak!! J

”beneran lo Ly..?!” tanyanya tak percaya.

”Siapa? Siapa?” dia mendesak.

”Rahasia”, jawabku ingin membuatnya penasaran. Mati penasaran. Rasain lo ReyJ

***

Tuhan!

Kenapa sekarang aku yang bingung. Apa maksud Bapak tadi malam? Apa yang dimaksud dengan ilga’. Kata Bapak, ’ilga’  itu mungkin bahasa inggrisnya cancel.

Mungkin.

Cancel maksudnya?

Apa ku ngak menyalahi prosedur yah..?

Tapi ku terlalu sulit untuk berkata tidak, sehingga ceritanya terus berkelanjutan.

Setahu ku kalau ada yang melamar mestinya kan di istikharahin dulu, apalagi reputasi lelaki yang mengkhitbah lumayan bagus di sekolahku. Punya agama kata orang. Tapi kenapa Bapak langsung memberikan pernyataan tidak usah terlalu dipikirkan. Penolakan paling halus yang pernah kutemui.

Bapak tidak menanyai pendapatku dan menyuruhku istikharah. Aneh sekali. Apa mungkin kepribadiannya tidak sebaik tampilan luarnya. Entahlah. Tuhan pasti akan memberiku jawaban.

Ku gelar sajadah. Istikharah, setelah menolak seseorangJ Aneh!!

Alert 16: kalau sudah bilang tidak pada orang lain, tidak perlu lagi shalat istikharah. Hanya menambah keraguan. Dasar!

***

Memang benar, setelah itu ku hanya berucap syukur karena istikharahku benar untuk tidak menerimanya. Allah serasa sedang berbicara padaku apa yang ada dibalik tubuhnya.

Dia pernah berkelahi dengan petugas sekolah hanya gara-gara ketahuan tidak ikut upacara bendera. Dia malah ngumpet.

Dia diduga menghilangkan barang milik orang lain.

Dia menyatakan kematian orang tuanya sendiri padahal jelas-jelas orang tuanya masih hidup karena sebab yang sangat sepele.

Dia, dibalik segala kelebihan yang melekat padanya, disamping keistimewaan yang dia miliki dalam berbagai aspek, ternyata sama dengan yang lain.

Baru saja ku terima kabar dari adek kelasku, ”kak Lya, abang itu ternyata alim-alim, bahaya juga ya..”

”bahaya kenapa?” introgasi berlangsung.

”dia ngirim surat ke teman Ria. Tau ngak kak Lya, abang itu pake muji-muji teman Ria itu pake kata-kata gini lho, ’kepada Siti yang caem, cantik dan manis. Begitu kak.”

”beneran tuh beritanya?” selidikku.

”ih.. bener kak Lya, bener-bener ngak nyangka deh abang itu seperti itu. Teman Ria ngliatin surat yang ditulis abang itu kok kak.”

Ah, subhanallah ternyata dunia ini begitu sempit.

Ketika ku ingin tahu apa yang sebenarnya yang terbaik bagiku, Allah memberitahunya dengan cara-cara yang tak terduga. Padahal jujur ku akui, sempat juga hati ku terombang-ombing sekian lama antara keengganan menolak orang dengan keinginan mengikuti hati nurani sendiri: keyakinan bahwa ia bukan yang bakal menjadi suamiku kelak.

Ku masih ingat pernah suatu ketika dia memuji namaku. Indah. Pujian ini tidak disadari orang lain karena ketika itu beriringan dengan pengumuman kamar asrama terburuk. Dan kamarku menempati urutan yang kedua. Kedua terburukJ penghuninya pembangkang semua sihJ entahlah semacam ada intuisi yang muncul begitu dia menyebut namaku indah. Aneh.

Lain waktu, dia menggoreskan khat indahnya di buku catatan bahasa Indonesiaku. Menorehkan sebuah syair. Hm.. bukan syair tapi sebuah hadis. Isinya: lebih baik aku ditusuk besi panas daripada harus menyentuh perempuan. Itu di halaman depan catatanku. Tapi tidak hanya itu, ternyata di halaman belakang, dia melukis sebuah syair, entah syair darimana. Ku pun sudah lupa syair apa yang ditulisnya. Udah lama sekali.

Aku semakin hapal bentuk tulisannya baik dalam bahasa latin maupun khat arab. Ku akui, kecerdasan visualku lumayan tinggi, apa yang ku lihat susah hilangnya.

Email addressnya pun seolah menyiratkan gabungan namaku dan dia. Cie…:)

Tapi tidak: tetap tidak.

Lagipula, lelaki itu meminangku sepertinya takut kehilangan ku saja. Rugi ntar keduluan orang, terbukti dengan standarnya memilihku. Ditambah lagi planning menikahnya baru empat tahun lagi. Ketakutannya semakin terbukti. Jika ku tilik pada prinsipku, ku ingin jarak menikah dengan khitbah tidak lebih dari setahun.

Dan lagi, dari surat yang ku baca dia sepertinya diktator, berjiwa keras. Belum apa-apa dia sudah mengatur kemana ku harus menyambung kuliah. Padahal diakan belum apa-apanya ku. Ku berdoa semoga tidak dipertemukan dengan orang yang keras lagi.

Yah, mungkin memang tidak jodoh dengannya. Lagipula, istikharahku sudah membuktikan bahwa keputusanku benar.

Alhamdulillah.

***

Cerita masih berlanjut, 9 Juni 2003

Di hari terakhir ku di sekolah, dia menyerahkan sebuah kenang-kenangan. Mungkin kalau dia berani berkata, mungkin dia akan bilang, ”ingatilah ku terus. Selalu.”

Ku menolak kenangan itu lagipula antara ku dan dia tidak ada apa-apa lagi. Belum pernah sekali pun ku menerima sesuatu dari orang yang pernah mendekatiku. Tapi dia tetap bersikeras, bahwa kenangan ini juga dia berikan pada teman-temannya yang lain. Dia meyakinkanku, tidak ada maksud apa-apa. Meski sebenarnya ku gak percaya, tapi ku gak kuasa.

Bagaimana ini..?! daripada lama-lama berduaan dengannya, hanya akan menebarkan gosip yang ngak-ngak. Ku terima juga jadinya dengan perasaan hambar. Ini tidak lebih dari sekedar hadiah saja. Titik. Dan ku pun berlalu.
image

Tapi ternyata, ku malah sering memikirkannya. Kadang ada perasaan bersalah, kadang ada perasaan terenyuh. Bersalah karena tidak dapat berkata tidak. Menyesal karena tidak sanggup menolak dengan baik. Karena tidak tenang akhirnya ku hibahkan hadiah itu pada temanku. Semoga pahala dia masih terus berlanjut dengan ku berikan hadiah itu pada orang lain.

Alert 17: jangan terima pemberian apapun dari orang yang belum tentu jadi suamimu dan begitu juga sebaliknya; jangan memberi pemberian pada orang yang belum tentu kamu menjadi isterinya.

***

Dua bulan setelah surat khitbah itu, baru ku beritahu orang tua. Sebenarnya tidak perlu lagi ku beritahu orang tua, tapi niatku baik dan ingin memberitahu orang tua bahwa anaknya sudah ada yang menanyai.

Tapi apa yang terjadi. Orang tua ku naik pitam. Baru berseragam abu-abu sudah pinang-pinang. Sudah bicara nikah-nikah. Ya Tuhan kenapa reaksi orang tuaku seperti itu. Lebih baiknya, memang tidak ku beritahu saja.

Alert 18: kalau ingin denganku, selesaikan urusan denganku dulu. Jangan temui orang tuaku.

***

What’s the ending?

Juni 2009

Kami bertemu kembali

Lewat sebuah message yang ia kirimkan ke facebook ku. Ku benar-benar terkejut, dia kembali muncul di pandangku.

Setelah sekian lama lost contact via apapun, nah sekarang tiba-tiba ia muncul dan bilang masih menunggu ku.

Setelah enam tahun berlalu, dia bilang masih belum bisa melupakanku dan akan tetap menunggu.

Ya Tuhan, kenapa masalah ku dengan cowok tidak pernah selesai dengan tuntas??

Ku pikir, kasus ku dengannya sudah musnah begitu saja sejak tahun 2003 itu. Ku yakin itu sudah berakhir karena tidak ada rasa cinta yang ku rasakan padanya sejak lama. Apalagi ini sudah Kau kuatkan dengan keyakinan yang Kau berikan lewat istikharahku.

Malah seiring berjalannya waktu, ku menemukan cinta itu pada seorang lelaki.

 

Apa yang salah dengan Heru? Dan kurangnya dia?

Dulu di mata orang dia memang alim, meski ku menemukan hal-hal negatif di dirinya.

Sekarang pun setahuku dia salah seorang mahasiswa terbaik di Universitasnya. Tapi kenapa hatiku tak terketuk sedikit pun mendengar kabar itu.

Hatiku masih tertulis satu nama: Azhim.

Jika mereka dibandingkan, sebenarnya hampir sama. Punya positif dan negatif yang sama-sama aneh. Bedanya yang satu ku cintai namun tidak diketahui apakah dia juga mencintaiku atau tidak; satu lagi mencintaiku namun tidak ku cintai.

Ah… kenapa semua ini seperti jalinan benang kusut saja. Kusuik masai.

Ku mencintai orang lain tanpa dicintai, eh di lain sisi, ku malah dicintai tanpa mencintai orang itu.

Ku tidak bisa dimiliki oleh lelaki yang juga mencintaiku, eh di lain sisi, ku juga tidak bisa memiliki cintaku.

Ku disakiti orang, eh ku malah mencoba rasa menyakiti orang lain.

Tak pernah ketemu, bete jadinya.

 

Kemaren Heru menelponku. Kenapa ku tak merasakan suatu jalinan yang menggetarkan ketika mendengar suaranya. Dia menelpon seperti menelpon bawahannya saja, belum lagi pembicaraan tuntas dia sudah memutus pembicaraan begitu saja. Sepertinya dia belum berubah juga. Egonya masih tetap tinggi. Apa mungkin karena dia lulusan terbaik luar negeri sehingga dia bisa mengatur orang lain semaunya, kapan ia menghubungi dan berapa lama, ia yang nentuin. Ku tidak merasa ditelpon oleh orang yang tulus mencintaiku.

Suaranya hampir sama dengan suara lelaki yang baru saja ku tolak. Lelaki itu ku tolak karena ia diktator dan terlalu mendominasi orang.

Hhh.. ku kembali teringat kenanganku selama dengan Azhim. Pertama kali Azhim menelpon saja, dan begitu mendengar suaranya, ku serasa berada di dunia yang Cuma ada kami berdua. Ku rasakan jalinan kuat itu.

 

Pun, begitu ku lihat foto Heru di facebook. Tuhan, ku takut melihat wajahnya. Maaf. Bukan karena wajahnya tidak bagus, atau ada kurangnya. Tapi ini masalah hati dan ku tak merasakan getar itu.

Ku kembali teringat ketika melihat foto seorang di internet. Dia masih temanku dan ingin serius padaku. Satu komentar yang keluar dari mulutku: menakutkan, berjiwa keras, angker. Sekali lagi bukan karena wajahnya serupa monster, wajahnya biasa ja, tapi ku tak merasakan kenyamanan begitu melihatnya. Dan bisa ditebak, teman itu juga ku tolak, lagipula ku masih belum bisa melupakan Azhim. Ku Cuma hanya akan mempermainkan orang saja kalau ku menerimanya karena di hatiku masih ada orang lain.

 

Berulang kali Heru bilang cinta dan sayang, yang ada ku malah ketakutan. Risih. Padahal setahu ku dia hafiz quran, tapi biasa ja bilang kata-kata cinta. Ternyata memang benar, lelaki kalau udah menyangkut urusan rasa dengan perempuan, mereka semua sama, mau preman, atau salafi sekalipun.

Kenapa ku merasa di setiap kata cinta dan sayang yang ia ucapkan, bagiku itu Cuma bermakna seks saja. Tidak ada ketulusan yang terbayang olehku. Yang ada ku merasa, apa mereka Cuma ingin mencobai tubuhku saja??

Ku juga merasa kenapa Heru seperti psikopat saja. Maaf.

 

*&*

<

p align=”center”> 

2012

Hikmah di balik istikharahku menolak Heru terungkap di tahun ini.

Dia yang dipuja manusia sebagai ustadz paling suci, dan mahasiswa paling pintar di universitas Mesir, mungkin juga seorang hafiz Quran, ternyata dalamnya tidak sebaik tampilan luarnya.

Februari 2009 (Jakarta-Bandung-Jogja-Padang)


Percaya bahwa Allah mendengar semua yang terbersit di hati kita!

Sungguh Ia menetapkan apa yang terbaik bagi ciptaanNya pada saat yang tepat.

Kini ku menyadari Allah mengabulkan apa yang ku butuhkan dan apa yang ku minta.

***

Ku kembali ke Jakarta, Tuhan!

Rasanya ingin hati ini bersorak, gembira, bahagia semakin bahagia.

***

Tahun kemaren, akhir Maret 2008, ku tekadkan hijrah, pergi mencari roh diriku yang telah terkikis karena beruntun masalah yang terasa begitu mencekikku. Ku percaya kepergianku mencari suasana baru, akan kembali menghidupkan semangat hidup dan kepercayaan diri. Bertemu kondisi kehidupan yang serba lain, belajar dari alam, dan mengisi kembali bahan bakar hatiku. Ku percaya keputusanku adalah keputusan yang paling tepat. Mohon maaf kepada orang tua karena harus rela dan bersabar menghadapi pemberontakan puteri satu-satunya (malah pake acara minggat segalaJ). Moga linangan air mata mama papa dibalas kebahagiaan dari Allah. Ku pergi untuk menjadi lebih baik bunda!

Ku yakin perjalanan ini akan banyak sekali ku temui pelajaran kehidupan berharga. Ku yakin Allah akan selalu berbicara kepadaku akan banyak hal di setiap langkah, di setiap hari yang kujalani di penjelajahanku. Mungkin, ini adalah perjalanan mencari Tuhan?!

 

Ingin rasanya ku melompat tinggi, bertepuk tangan, berteriak bahagia, horee.. !!

Orang tua akhirnya –walaupun terpaksa- mengizinkan ku untuk pergi. Ah tak terhingga bahagianya. Tuhan, aku datang!

Ku niatkan untuk pergi selama mungkin, lima tahunan mungkin, pokoknya lama. Sampai aku berhasil, setidaknya dapat kerja. Di mana saja.

Tapi rupanya doa orang tua lebih didengar Allah.

Ku dikutuk Cuma tiga bulan saja di Jakarta. Ku benar-benar tidak sangka kutukan itu manjur.

Ku bawa shalat, ku bawa nangis, ku tukar fikiran sama dian. Akhirnya kesehatan ku drop. 3 minggu terbujur sakit di kosan. Uang tabungan yang sengaja ku siapkan untuk jalan-jalan ke bandung dan jogja, (kalau toh harus balik pulang, setidaknya ku sudah menjelajahi tempat yang ingin sekali ku kunjungi) akhirnya ludes untuk berobat 300-an. Harus gimana lagi?!

Selama 3 minggu terbaring di kosan, mo jalan susah, ngapa-ngapain dibatasin gerak, ga boleh letih fisik dan mental. Ah sudahlah! Ini mungkin peringatan Allah karena sudah ngebantah titahnya.

 

Tuhan, Engkau maha Tahu, ku sungguh belum siap balik ke Padang.

Tidak siap dengan apa yang bakal ku hadapi di sana, tentang masa depan ku, baik kuliah maupun pekerjaan, juga tidak siap kembali ke ‘kamar istana’ ku (saksi semua derai air mata dan tempat pertapaanku) sungguh ku tak ingin kembali merasakan semua kenangan itu Tuhan.

Tidak siap jika harus mengetahui lagi keadaan seorang di masa laluku.

Entahlah kadang ku berpikir, jika aku harus balik Tuhan, kenapa mesti ke Padang? Ke Pekanbaru aja barangkali..

 

Tapi sudahlah! Ku harus ingat, fokus sekarang adalah sehat dulu. Jangan pikirin yang lain.

Sakit ini adalah jalan Allah supaya ku lebih dewasa menyikapi masalah, ga terlalu panikan, tenang.

Jika kembali adalah jalan yang terbaik Tuhan, ku ikhlas.

Padahal ku mau jalan2 dulu liat monas (hehe.. norak banget..), mo ke bandung, ke jogja.. ah.. jalan-jalan aja nih isi kepala!

Bodo ah! Mungkin belum waktunya, lagi pula ongkos juga dah tergadai untuk obat. Ini isyaratnya kali kalau suatu saat (entah kapan) ku pasti balik lagi ke sini dan mungkin ke tempat-tempat yang ingin ku temui itu.

(Tidak cukup setahun kemudian, hadiah itu diberikan Allah.)

 

Aku pulang! (7 Juli 2008)

***

Sesuai permintaan orang tuaku, ku melanjutkan studi. Pada awalnya, setiap kali ditanya orang, gimana rasanya sekolah? Ku menjawab dengan sangat tidak semangat sekali. “hm.. biasa aja..” diiringi senyum palsu yang bagiku sendiri terasa tak indah sama sekali.

“percaya vaa.. Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya. Mungkin ini yang terbaik bagi vaa. Kini mungkin belum nampak apa hikmahnya. Tapi percaya saja.” Ma uo ku bertitah.

Spontan air mataku berderai setitik setitik. Di kampus kok aku malah nangis. Untung saja itu udah ashar, jadi orang-orang udah sepi. Mungkin udah untuk kedua kalinya Ma uo itu melihatku menahan tangis. Kadang tangis yang ditahan terasa lebih perih daripada tangis yang dihempaskan.

Ku menangis bukan meresapi kata Ma uo tadi, tapi ku meratapi mengapa Tuhan menetapkan jalan hidupku seperti ini, ku menangisi sendiri, ku belum siap dengan kehidupan seperti ini. Terlontar di bibirku, “bagusan di Jakarta Ma uo”. Sungguh ku tak sanggup lagi menahan tangis. “ma uo vaa belum shalat, vaa pergi dulu ma uo”. Alasanku untuk pergi saja.

 

Tahu apa yang terjadi setelah itu???

Semua urusan ku pada ketabrak tembok. Makalah yang udah dibela2in disiapin ke dosen, eh dosennya malah ga ada. Padahal menurut peraturannya harus sudah dikumpul seminggu sebelum makalah itu dipresentasikan. Udah ditunggu sampe ashar, eh ternyata bapaknya ga balik ke kampus lagi. Besoknya ku tunggu lagi bapak itu, eh lagi ngajar, ga bisa diganggu. Ku titipin ke pegawai pasca, eh dia titipin ke asisten bapak. Udah empat kali ‘eh’ lho.. J

Nah hasilnya, ketika hari tampil makalah, bapak itu bilang, “makalah satu lagi mana?” oh my God! Ternyata asisten dosenku lupa nyerahin makalah itu ke dosenku. Ya ampun…..!

 

Untung Allah tidak membiarkan ku lama-lama dalam keadaan seperti ini.

 

Jika banyak masalah, ku selalu cari jalan keluar. Apakah itu ke pustaka, ke toko buku, ke pasar –windowshopping-, jalan kaki menyusuri jalan raya sekota padang pun ku mau, atau beli es krim yang belum pernah ku coba –dan harga dalam kondisi seperti ini bukan jadi soal.

Pilihan kali ini jatuh ke perpustakaan, secara ku harus cari bahan makalah.

Iseng-iseng cari buku bagus, untuk nentramin hati.

Kun fayakun – yusuf manshur.

Kayaknya bagus. Dan kenyataannya buku ini memang sangat bagus.

Barangkali inilah awal titik balikku. Sungguh ampuni ku Tuhan. Ku memang belum bisa sepenuhnya menjadi lebih baik, tapi ku dah berusaha.

Selangkah ku mendekatiMu.

Seribu langkah Kau datang kepadaku.

 

Ini cerita tahun kemaren, 2008.

***

Februari tahun berikutnya. 2009.

Mimpi itu dikabulkan Allah.

 

Ku lulus tes kerja tahap pertama dan harus ngikutin tes itu ke Jakarta. Duh.. ga kebayang bisa juga masuk gedung Mahkamah Agung. Dan tahu ga sih, ternyata gedung MA itu berhadapan dengan monas. Tahun kemaren, kan ku pengen kesini tapi ga kesampean. Wah… hebatnya lagi ku bisa menikmati monas di malam hari, secara tesnya dari pagi sampai magrib, dari jam 7 pagi ampe setengah 7 malam. Duh.. capek banget!

Padahal seingatku tahun kemaren, ku tinggal jalan kaki aja dari Depag, udah nyampe ke monas (kata orang juga sih..) eh ga nyampe-nyampe.. ya sudahlah belum rezeki, pikirku.

 

Karena tesnya sampe malam, keluarga ga bisa jemput, so ku harus berjuang sendiri mencari jalan pulang. Dan opsi transportasinya Cuma bus kota dan busway. Bus kota ada sih pas di seberang MA, tapi nunggu bus yang ke Lebak Bulusnya minta ampun lamanya, udah perut keroncongan, untung sih lagi ga ada beban untuk shalat. Kalo ga, ku pasti kelabakan nyari mushalla. Dengkul-tumit-kaki udah pegal, otak udah mampet berperang seharian, perut lapar, kesal juga dikit keluarga ga bisa jemput. Sabar.

Ketika tadi nanya ke satpam MA, katanya dekat sini, abis perempatan ada halte busway, deket kok katanya. Ya udahlah, toh lebih nyaman naik busway (sepertinya sih, secara ku belum pernah sih naik busway, so ni pengalaman pertama.)

Ternyata, haltenya masyaallah jauhnya. Itulah bedanya ‘dekat’ orang Jakarta dengan ‘dekat’nya orang daerah. Cerita ini kayaknya emang norak, tapi bagiku bukan itu letak poinnya.

Ku merasa, kenapa perjalananku ke Jakarta kali ini semacam follow up dari training Allah pada ku tahun kemaren. kali ini ku mendapatkan dan mengalami apa yang terlintas di benakku. Setidaknya, pernah sekali mencoba naik buswayJ. Jadi kalau keluar negeri bisa cerita lah, untuk pembanding monorail atau MRT nya Malaysia.. hehe..J

Di dalam transjakarta itu, ku tersenyum geli. Jalan hidupku lucu ya! Tahun kemaren untung waktuku lebih banyak bersama teman-teman ketimbang keluarga, ku dibiasin nikmatin suasana jalanan di Jakarta, tapi ga pernah suasana malam kayak sekarang. Kalau taun kemaren ku Cuma tinggal bareng keluarga, wah ku bisa sesat ke mana-mana karena ga tau jalan.

Jalan kaki dari MA ke halte busway naik transjakarta ke blok M, lalu naik bus ke Lebak Bulus, ganti angkot ke Ciputat, trus nyambung pake ojek ke Bambu Apus pukul setengah sepuluhan malam. Padahal kan Jakarta, sama seperti kota besar lainnya, rawan sekali.

Tips stres: tetap tersenyum. Buktinya ada abang-abang yang rela berdiri nyediain tempat duduknya untukku. Bukannya mau GR, tapi ternyata dia begitu karena udah mau turun. Hehe. Tapi jazakallah ya. Capek! abis tes soalnya!

Trus jangan bengong aja di angkot atau di bus, dijamin tambah BT. Bayangkan yang indah dan ajak penumpang lain ngobrol, tertawa, bercerita. Niscaya lebih ringan. Asal jangan maksud menggoda aja lah.

Alhamdulillah, ku nyampe rumah dengan selamat.

Petualangan pertama.

 

Moga takdirku ada di sana Tuhan. Tetapkanlah yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhiratku, semoga ini juga memberikan kebahagiaan bagi kedua orang tuaku. Amin. (resultnya: alhamdulillah J)

*****

Petualangan kedua segera dimulai.

Hari minggu ku sudah selesai tes. Senin beres-beres dan main bentar ke Ciputat, biasa hang out. Nostalgia! Secara ku pernah tiga bulanan tinggal di sini.

Ketemu teman, adek kosan, dan seorang penasihat spiritual..wooo..

pak ustadz kapan nih traktiran baso lagi?? Hehe.. biarin deh Cuma baso pak kumis. Rejeki harus disyukuri tohJ.

Ritual kelar. Selasa ku segera bertolak ke Bandung. Ga tau lagi mau ngapain di Jakarta jadinya. Udah bosen kali ya.

***

Ku mau ngapain ya ke Bandung? Mau nginap dimana? Tanpa tujuan. Yang ku tau, ku pengen tau gimana hidup di Bandung. Kebetulan teman ku bareng tes, punya adek yang lagi kuliah di sana, tepatnya di UPI, jadi yah numpang idup sementara waktu lah. Sia-sia banget kalo ku ga sampe ke Bandung, udah tahun kemaren ga bisa, sekarang ada kesempatan harus dilepas begitu sajakah??

 

Sebelum ashar ku berangkat dengan salah satu travel di kota ini, dan nyampe Bandung udah magriban. Lagi-lagi perjalanan malam. Kenapa ini?

Kenyataan pertama yang ku alami. Jalanan di sini lumayan membingungkan bagi pendatang baru, soalnya jalanannya banyak yang sejalur (Malaysia ga kayak begitu amat deh).

Ketika tiba di kosan adek tu jam 8-an, ku langsung makan dan tidur. Sumpah capek banget. Ga mandi. Secara Bandung dingin bo’. Lebih dingin dari Bukittinggi. Wush..!! dinginnya.

Siangnya.

Ternyata kosan adek tu sarangnya Daarut Tauhid, yang punyanya Aa’ Gym itu lho. Sumpe.. dulu ketika Aa’ Gym lagi ‘kudus’nya ku sempat juga terpikir mau maen-maen ke DT, penasaran DT itu kayak apa sih. Ku pernah liat di majalah, foto-foto masjidnya, guest housenya, pokoknya yang serba MQ deh.

Nah lho sekarang, ku bolak balek, mondar mandir tiap hari di daerah yang pernah ku liat di majalah. (kok kayak andrea banget sih waktu nemuin edensor..hehe..). tapi sayangnya DT ga istimewa lagi.

Setiap jumat aa gym selalu kasih ceramah, tapi ku seperti tidak kenal suaranya. “ih, itu suara aa gym ya? Kok beda sih?”

 

Tapi di Bandung ni ku bingung mau jalan2 ke tempat wisata mana. Transportasinya pada susah. Yang mudah tu, transportasi dalam kota. Jadinya ku malah sering ngunjungi pusat perbelanjaan yang menjamur di sini.

Kayaknya Bandung lebih enak wisata kuliner dan wisata duit deh. J

Wisata kuliner? Beragam jenis makanan silakan coba, pisang karamelnya kriuk-kriuk, cimol, cireng, ah apalagi ya.. saking kebanyakan nyoba jadi ga ingat. Saking istimewanya tu pisang karamel ya, untuk teman perjalanan ke bandara, ku sampe beli 6 pisang, wahahaa. Niatnya buat oleh2, eh keburu abisJ laper! Pisang akhirnya jadi pengganti makan pagi dan siang. Ada sih beli nasi sebelum ke bandara, tapi mau makan di mana? Eh ga taunya nyampe di Padang udah jam setengah sepuluh malam. Perjalanan malam lagi. Sumpe, laper ku semakin menjadi.

Wisata duit apalagi. Ada BIP, ada ciwalk, kings, delele.. kalo ku lebih suka belanja murah ja deh di Pasar Baru.. hehe.. selebihnya windowshopping ja.

 

Ku juga udah ngliat UPI, ITB (di dekat ITB ni ada kebun binatang lhoJ), dan UIN sunan gunung djati (pake D) sama dengan stain ku Sjech M. Djamil Djambek (pake D ya masing-masingnya) hehe.. yang ga kesampean tu kampusnya febi, UNPAD di Jatinangor.

Ah.. UIN.. inilah tempat yang ku ancang-ancang sebagai tempat ku nglanjutin kuliah. Tapi kayaknya kita jodohnya Cuma buat kenalan ja.. hehe..

Kalo ku ga balek ke Padang, mungkin sekarang ku ga kesampean S2, trus juga ga bisa ngikutin tes kerja ni.. hasbiyallah. Tawakkaltu ilaik ya Allah. Yang belum kesampean tu: si garaning nyawa… J hope!

 

Kenangan unik lain dari bandung ni, soal ongkos angkot. Harap bayar dengan uang pas karena kalau tidak, ongkosnya akan berbeda dari tarif ongkos uang pas. Kalau ga percaya, silakan coba J

 

Tinggal satu lagi inginku. JOGJA (yang terbayang sih Cuma pengen ke Borobudur dan Parangtritis, udah itu doank). Tapi gimana caranya??!!

Liat tabungan, udah menipis. Padahal kan kapan lagi, siapa tahu besok ni ku malah ga bisa kemana-mana, ya siapa tahu udah menikah barangkali, atau bisa juga terikat kerja.. amin.. (alhamdulillah)

masa tahun kemaren udah ga bisa, sekarang udah ada kesempatan juga ga kesampean. Gimana nih ya Allah??

Eh.. akhirnya tiba telfon dari ortu. Udah ada suntikan dana, minimal untuk tiket kereta ke sana. Untuk tiket pulang, dipikirin lagi ntar. Yang penting sekarang nyampe dulu J

Ga lama setelah itu, ortu nelfon lagi, pikirin lagi deh ke jogja tu, paa liat di peta kayaknya jauh, lagi musim hujan juga, bla..bla.. Duh ya ampun.. ku sempat nyerah kalo tour ke jogja bakal batal lagi tahun ni. Ga da restu ortu soalnya.

 

Ku terpikir kata pak Abdul Manan waktu interview kemaren. Kalau kamu ketemu harimau di tengah hutan, kamu mau ngapain: lari, manjat pohon, atau ngelawan. Yah ku mikir harus dilawan dulu donk, masa langsung lari. Begitu juga dengan Jogja, ku harus mampu menaklukkannya tahun ini juga. Walah bahasanya J

Ortu, adek, kakak, bikin koor pesimis dan menghalangi ku ke jogja. Cara jitunya ku iyain aja. Tapi setelah telfon ditutup, hunting tiket kereta dimulai..hehe..

 

Langkah pertama, tentunya nyari stasiun, untuk nanyain harga tiket dan waktu keberangkatannya. Coba kalau ku tahu nomor telfon stasiun, kan tinggal di-hp aja.

Berdasarkan kabar angin, stasiun Bandung itu dekat dari pasar baru, tapi jauh dari kalapa. Duh.. mau tanya ma siapa ya, cara dari kalapa ke stasiun.

Capek mikir, kita nyari baju dulu.

Karena di kepalaku masih nyangkut jalan ke stasiun, akhirnya ke satpam toko ku nekat tanyain arah jalan ke stasiun. Pokoknya hari ini juga harus ada kepastian jadi atau ga ke jogja.

“deket teh (seneng juga dipanggil teteh), tinggal ikuti aja jalan ini, udah pasar baru, lalu sedikit dari pasar baru udah sampe di stasiun”.

Lagi-lagi ‘dekat’ orang Bandung sama dengan ‘dekat’ orang Jakarta. Bahkan perjalanan ini menjadi semakin jauh karena kami salah arah. Stasiun ke arah selatan, kami jalan ke Timur. Oon! J

akhirnya, ga ada pilihan lagi, “mang, becaknya! Ke stasiun berapa ya? Tiga setengah ya..” setelah berdebat dulu, akhirnya tukang becak mengalah. Harga awal Rp5.000. moga rejekinya mang melimpah terus ya dan banyak yang make jasa becaknya mang.

Tiket dibeli. Dengan begini, setidaknya ku udah bisa ke dan dari stasiun Bandung sendirian, baik mau dari Jakarta, dari Jogja, atau pun dari mana saja.

***

Stasiun Bandung ni sempat bikin ku bingung. Soalnya pada hari pertama ku ke stasiun ni, tertulis stasiun selatan. Ku pikir emang namanya udah begitu kali ya.

Kali ini ku Cuma mau ngecek harga tiket, kalau terlalu mahal, lewat dari seratus ribu, mungkin ku ga jadi ke Jogja. Tabungan lagi terbatas. Ternyata harga tiket yang ada Cuma bisnis: seratus ribu khusus akhir pekan, kalau hari senin-kamis, harganya 90000. padahal kata hasnah, tiket ekonomi Jakarta-Jogja tidak sampe 50000. Tapi kalau ekonomi, ku ngeri bayanginnya, soalnya ku pergi sendiri dan sama sekali belum pernah ke Jogja. Pasti gue banyak bengongnya ntar. Lagipula untuk membeli tiket kelas ekonomi itu mesti ke stasiun lain. Ku lupa apa nama stasiunnya. Di samping itu, kesediaan hasnah belum pasti bisa atau gak njemput ku ntar setiba di jogja. Ya udah deh. Ku balik kanan pulang ja, belum jadi beli tiket. Setidaknya ku sudah tahu berapa anggaran biaya yang harus disediakan.

 

Setelah itu, baru tiba telfon ortu kalau biaya udah disubsidi. Hehe. Mungkin karena ku lulus tes kerja ini kali ya, makanya ortu oke-oke aja soal proposal jalan-jalanku ini. Padahal jogja itu jauh dari bandung, seharian naik kereta. Biasanya ortu ga kan ngijinin karena jaraknya sejauh itu, dan karena ku belum pernah kesono plus perginya oncong-oncong sendirian. Kalau diculik orang gimana? J

Yah.. sempat juga sih terpikir olehku untuk menunda lagi kepergian ke Jogja ini, apalagi ortu kurang berkenan. Tapi.. kapan lagi?

 

Setelah dipikir-pikir dan ditimbang. Biaya udah ada, cuaca selama perjalanan insyaallah aman karena daerah yang dilanda banjir hanya jalur utara sedangkan bandung-jogja kan jalur selatan. Hasnah pun bilang kalau di jogja tidak kena banjir. Giliran ku yang harus bikin keputusan.

 

Tadi di telfon ku bilang ke ortu mungkin gak jadi ke Jogja. Sebenarnya itu Cuma supaya ortu ga banyak aturan ja n ga terlalu khawatir. Hehe.

Hari keduanya. Setelah telfon ditutup, ku segera ke stasiun. Tapi karena ku langsung dari Geger Kalong menuju stasiun, ternyata stasiun yang ku temui adalah stasiun utara. Bingung ku jadinya, sumpah! Biasanya stasiun kan Cuma ada satu, ini kok ada dua. Ku sampe nanya satpam lho apa sih bedanya stasiun utara dan selatan. Haha dasar katrok. Maksud bedanya, apakah ada bedanya kalau beli tiket di utara, nanti berangkatnya juga harus dari utara, atau bagaimana. Bisa juga ga dari selatan. Ternyata, keduanya satu tempat, keretanya itu juga sama, mau ngambil tiket di utara kek atau di selatan. haha. Begitu pemandangan yang ku lihat dari jembatan penyeberangan. Ku jadi malu sendiri. Kenapa ada dua? Mungkin karena sistem jalan di bandung ini banyak yang pake sistem satu hala kali (istilah malaysia nihJ) ah Bandung. Dirimu membingungkan saja.

Setelah menghitung-menjelimeti jadwal keberangkatan dan harga tiket. Akhirnya ku beli satu tiket kelas bisnis tuk hari Sabtu pukul 08.00 waktu setempat J jadwal kereta malam ada sih, tapi takut ah, lagipula kesempatan melihat pemandangan indah bakal hangus ditelan gelapnya malam.

karena jadwal keberangkatanku untuk esok harinya, ku harus ngisi formulir pembelian tiket dulu. Padahal kalau beli pada hari berangkat, boleh langsung aja beli tiket, tanpa ngisi formulir dulu. Yang pasti harus ku persiapkan adalah bekal karena perjalanannya seharian. OMG!

Satu hal yang menarik: nomor kursi ku di kereta. Bagiku perjalanan dengan kereta ini adalah untuk yang kedua kalinya. Pertama, ketika tahun 2004 dari Semarang ke Jakarta. Nomor kursi ku di tiket kereta yang sampai sekarang masih ku simpan adalah 14D. Tau berapa nomor kursi ku sekarang. Juga 14D. Kebetulan!

*****

 

Petualangan ketiga: Jogja

 

Hari keberangkatan

 

Tak sabar ku segera sampai di jogja. Kasihan juga dengan adek teman ku, tempat ku numpang idup itu. Kamar kecilnya penuh sesak oleh tubuh dan koperku.

Kereta ku berangkat pukul 08.00 tapi ku berangkat dari Gerlong pagi-pagi sekali, jam 6 kurang. Soalnya temanku, Ayu, juga naik kereta ke Jakarta berangkat jam 7. jadi, sekalian aja bareng. Dengan sedikit makan pagi, ku bersiap memulai petualangan baru. Pelajaran kehidupan apakah yang kan ku temui selama perjalanan ini?

Bismillah!

 

Pukul 6.30 ku sudah sampai di stasiun utara. Menunggu pukul 8 berdentang. Menunggu sebenarnya adalah untuk melatih kesabaran J

Begitu tiba di stasiun, ku langsung masuk. Dan duduk di ruang tunggu. Kereta ku belum juga menampakkan hidungnya. Sedangkan, ayu segera masuk kereta, karena keretanya udah stand by. Ku duduk sendiri, membolak-balik lembaran annida yang tak sedikit pun masuk dalam pikiranku, sebentar-sebentar melihat jam dinding. Lamakah lagi jam 8 sehingga ku harus menunggu dan bengong sendiri saja di sini? Kenapa detak detik jam terasa begitu lambat berjalan? Belum juga pukul 7.

Entah karena stres menunggu J (segitunya), perut ku jadi sakit. Mana toiletnya yah…?

Eh, ternyata kunjungan ku ke toilet ni, bikin ku kehilangan sabun cairku. Duh..!! kok bisa ketinggalan ya?!

Setelah itu ku beli bekal tuk perjalanan seharian nanti. Sasaran kali ini, kue coklat. Ku beli beberapa. Buset! Mahal amat. Tapi standar makanan di tempat-tempat begini emang mahal sih. Biarin deh. Daripada laper ntar.

Setelah itu, ku kembali menunggu. Kok kayak ga ada orang yang mau ke jogja yah. Duh.. lamakah lagi??

Akhirnya, kereta itu datang juga. Ku segera masuk kereta. Ah.. senyum terukir di wajah. I’m comin’ jogja.

 

Ya Allah, syukran lak.

Tak ku sangka, keinginan ke jogja Engkau kabulkan juga di saat yang tepat seperti ini. Andai, ku ke jogja tahun kemaren di saat hati ku sedang labil, mungkin perjalanan itu hanya memberi kenangan sesaat saja. Beda dengan sekarang. Keadaaan ku sudah mulai membaik, dan tujuan ke jogja sekarang memang fokus untuk mencariMu.

Ya Allah, terimakasih atas senyuman yang Kau berikan untukku.

Mataku berlinang menyadari Engkau selalu mendengar apa yang terbersit di hatiku. Terimakasih karena ku di beri kesempatan menyaksikan keindahanMu pada ayat-ayat kauniyahMu di muka bumi ini. Meskipun ku harus menunggu waktu bertahun untuk mendapatkan kesempatan ini.

Mataku berlinang, menyaksikan semua keindahan alam yang Engkau sajikan selama perjalanan ini, gunung menghijau, Kebun jagung, Sayuran, sawah-sawah membentuk tangga bagiku untuk menggapaiMu. Ah dengan diterangi sinar lembut mentari pagiMu. Sungguh indah. Andai ku naik bus, mungkin ku tak kan bisa menikmati pemandangan ini. Itulah sebabnya ku lebih menyukai perjalanan dengan kereta setelah pesawat.

Mataku berlinang karena ku merasa Engkau begitu dekat. Sungguh damai. Tiada bandingannya.

Kata-kata pujian selalu tercurah untukMu ya Allah.

 

Seiring derung bunyi rel kereta, ku panjatkan doa semoga ku selalu dalam genggamanMu.

Kenyataan ini membuatku berani untuk bermimpi. Bermimpi untuk mengunjungi keindahan alamMu di belahan bumi lain, jagad raya ini. Gunung Bromo, Tembok Cina, Taj Mahal, Piramid, London Bridge, Eiffel, terutama ka’bahMu (meski yang terakhir ni kayaknya baru akan kesampean kalau dah punya suamiJ firasat doank).

 

Kalo perjalanan dari bandung ke jogja, pilihlah duduk di bagian kiri kereta karena pemandangan alamnya lebih indah pada sisi kiri ini.

Sejak dari stasiun bandung, ku hanya duduk sendiri. Padahal penumpang lain duduknya berdua-dua. Enak donk. Bisa lebih leluasa. Perjalanan baru saja dimulai tapi perut ku udah mengetuk-ngetuk. Ku ingat kue coklat tadi. Tapi begitu ku buka, ternyata 2 dari 4 kue yang ku beli udah expired. Masyaallah. Toko kue bagus kok njual kue expired gini sih. Mesti hati-hati nih lain kali. Padahal kalo diliat dari lay out tokonya, kita gak akan nyangka deh orang itu tega jual kue basi begini. Ku percaya aja tadi. Tapi biar sajalah!

Begitu tiba di stasiun tasikmalaya, baru ada teman sebangku ku. Namanya annisa. Orangnya imut dan untungnya ceria seperti ku. Woo narsis. Wajahnya baby face banget. Ketika ku tanya dia kelahiran berapa, dia bilang 86, wah sama donk. Tapi kok kayak 90-an dehJ karena kami setipe, ngobrol pun jadi lancar banget.

Dia banyak cerita soal keluarga dan pendidikannya sekarang di jogja. Annisa berasal dari keluarga besar. Ia pernah nyantren, setelah SMP. Lalu baru nyambung ke SMA. Makanya sekarang dia masih kuliah di tata boga. Begitulah rasanya annisa cerita. Begitu ku bilang background ku sekolah agama, dia merasa risih sendiri, karena dia keluaran mondok juga tapi pake celana panjang, kudung gaul, dan sebagainya. Ku tak pernah memikirkan itu. Toh ku kadang juga seperti itu kalau situasi mendesak.

Ketika ku tanya kenapa ngambil studi di situ, kenapa ga di perguruan tinggi aja dan ngambil jurusan yang lebih jadi favorit teman seangkatannya. Jawabnya, “karena nisa minat sekali soal tata boga itu, lagipula kalau menikah nanti kan ilmu ini juga pasti terpakai.” Jelasnya diiringi tawa renyah. Lugu sekaliJ Iya juga sih.

Beda denganku, yang masak itu entah nomor ke berapa dalam daftar hidupku. Paling banter, ku sukanya bikin kueh.

Salutnya ma nisa ni. Badannya udah kecil, tapi barang bawaannya banyak banget. Emang sih balik liburan. Tapi kalau dibandingin denganku, wah ku ogah bawa barang banyak yang bakal ngerepotin kita ja. Soalnya perginya sendiri, lain ceritanya kalau pergi ga sendirian.

Awalnya dia mau dijemput oleh keluarga, eh, kiranya ga bisa. “biasa aja kok teh, ntar ada orang-orang yang jasa angkut itu. Ntar nisa naik taksi aja.” Nih satu lagi enaknya dia. Mandiri!

Karena annisa tinggal sendirian di rumahnya di jogja, dia spontan ngajak ku nginap ke sana. “teteh, nginap tempat nisa aja yuk teh..” Baik amat ya! Tapi ajakan itu hanya ku balas dengan ucapan terimakasih, karena ku tak sabar lagi melihat borobudurJ

Berbagai nama stasiun sudah ku lewati, yang paling ingat tu stasiun kebumen dan wates. Kebumen, hometownnya si pecicilan, titin. Adek kos ku waktu di ciputat dulu. Jika sudah tiba di wates, berarti stasiun tugu jogja sudah semakin dekat.

Ku perhatikan saja suasana jogja. Lengang. Memang alami banget. Beda dengan kota-kota lain. Apalagi jika dibandingin bandung. Kalau di bandung, wah angkot berseliweran. Namun, di jogja berbeda.

Tiba-tiba ku bertanya ke annisa, “sa, dari tadi kok ga keliatan angkotnya yah..?”

Ku bertanya seperti itu, untuk mengantisipasi keadaan saja. Siapa tahu nanti hasnah atau ami ga bisa njemput, ku kan bisa ke kosan mereka sendirian. Asal dikasih tau aja naik angkot nomor berapa, trus berhenti di mana. Jadinya kan ga ngrepotin orang amat. Coz, di bandung, baru keluar stasiun aja, udah ada angkot yang langsung ke gerlong.

 

Tapi jawaban annisa bikin ku terkejut.

“di sini memang ga ada angkot teh.”

“trus pake apa donk?”

“biasanya tu ya motor, kalau dari stasiun ni biasanya annisa dijemput. Nanti kayaknya naik taksi aja.”

Setelah beberapa hari di jogja. Ku baru tahu, memang seperti itu keadaanya di sini. Angkot sih ada tapi kayaknya di sekitaran kota ja, dan itu menurut ami, Cuma sampe jam 5. benarkah seperti itu? Trus di sini Cuma ada transjogja. Dan itu pun jalurnya terbatas. Makanya di sini harus bisa bawa motor dan kalau bisa memang harus punya motor sendiri.

Sejenak ku berfikir. Untung juga ku ga kuliah di sini. Untung banget. Wah, kalau kuliah di sini, dipastikan ku udah ga pegang prinsip lagi deh.

Ih, gimana rasanya tu, kalau mau ke mana-mana terhambat transportasi. Masa antara kos dan kampus ja. Ga vaa banget deh!

Tapi kalau bicara fasilitas universitasnya, emang TOP kayaknya.

***

Ku menunggu ami di pintu barat. Cukup lama. Katanya ami udah nyampe stasiun tapi kok ga keliatan ya. Awalnya hasnah yang akan menjemput ku di stasiun, tapi karena hasnah masih ada kuliah akta IV, jadinya ami yang menjemputku. Ami ternyata menunggu ku di pintu timur. Karena di jogja ini juga pake sistem sehala, jadinya ami harus mutar jalan lagi ke pintu barat. Padahal kalo masuk pake tiket peron aja bisa juga sih. Ku lihat, annisa sudah duluan menuju taksinya. Senang bertemu kenalan yang sama pecicilannya. Hehe.

 

Cukup lama ku menunggu ami. Ya sudah. Ku lalui hari dengan minum sisa air yang masih ada. Maklum, ku kalau dalam perjalanan, paling ga cukupan ama air. Lalu, ku liat jadwal keberangkatan kereta dari jogja ke bandung, supaya nanti tidak bingung mau nyari tiket jam berapa. Insyaallah ku naik kereta lodaya lagi, jam 09.00 pagi. Karena sebenarnya kereta ini jalur solo-bandung. Jadi dari solonya jam 8, sampe di jogja tentu jam 9 pagi.

Sempat terpikir untuk mencoba pengalaman jogja-bandung pada malam hari, tapi ternyata ku tidak cukup berani. Bukan apa-apa. Perjalanan sendirian di tengah malam itu bagiku cukup rawan. Apalagi antara bandung-jogja ini ada satu terowongan panjang, kata orang sih peninggalan penjajah dahulu kala. Tapi walau mengerikan, seru rasanya berada di terowongan itu. hehe. Cobalah, kalau ga percaya.

Terowongannya panjang banget, yang masyaallah gelapnya. Ku hitung durasinya sekitaran 10 – 15 menit. Dan selama itu, suasananya mengerikan. Suara manusia entah dari mana, mengerang-ngerang., menokok-nokok dinding kereta, tertawa terbahak-bahak. Seperti bajak kereta ja. Penyamun. Orang stres. Rasanya lebih dari lima raksasa (hiperbol banget!) Mampus ku nanti kalau ada apa-apa di tengah malam itu. Nyali ku jadi kecut. Padahal itu kan di tengah kedalaman terowongan berpuluh-puluh meter. Orang-orang itu dari mana muncul ya.

Selain itu, kereta tu lumayan sering berhenti di stasiun-stasiun yang disinggahinya dan itu memakan waktu lama. Setidaknya paling lama 20 menit. Ini yang ku alami ketika naik kereta siang. Sempat kesal juga sih, kok kereta sering banget sih berentinya. Kan bikin perjalanan ini memakan waktu yang lama, jauh dari jadwal kedatangan seharusnya. Tapi setelah keseringan ni kereta berenti, baru ku paham, kereta berhenti karena menunggu kereta lain selesai gunain jalur relnya. Karena kalau ga berhenti, tabrakan donk ntar. Terpaksa bersabar.

Nah, kalau pada malam hari seperti itu juga kah? Sering berhentikah kereta? Ku ga tahu. Tapi tetap aja rasanya kurang aman. Karena ketika siang ja, kita berhenti di satu stasiun, dinding kereta itu udah digedor-gedor anak-anak usia sekolah dasar. Apalagi kalau malam, mungkin bukan anak-anak lagi yang muncul.

Ya, mereka memang memakai pakaian sekolah. Tau dia mau apa? Mereka mau duit. Mengemis dengan sedikit paksaan. Kalau kita mendongakkan kepala ke luar, mencari tahu ni anak mau ngapain? Kita pasti dinyohok dengan tangan yang meminta duit.

“buk, minta duit! Minta duit!” Sambil menggedor-gedor kuat.

Aah.. padahal ketika itu lagi waktu istirahatnya mereka dari sekolah. Sempet-sempetnya gitu meminta duit. Kemana orang tua mereka? Kemana para guru mereka?

Akhirnya ku putuskan juga ngambil kereta pagi.

***

Akhirnya ami muncul juga. Alhamdulillah.

Bagiku ami tidak begitu asing karena kami lumayan sering call-ingan, meski pun kalau dihitung-hitung, sebenarnya kami sudah sejak tamat aliyah dulu tidak pernah bertemu. Semulanya ku mau diajak ke malioboro dulu. Tapi mending langsung ke kos ja, ku dah capek seharian bengong sendirian di atas kereta. Apalagi ku ga bawa apa-apa kesini, Cuma bawa tekad J

maksudnya ku ga bawa fasilitas tuk dengerin musik dan sejenisnya lah. Trus juga ga bawa kamera tuk mengabadikan temuan ku selama perjalanan ini. Ah nasib! Jadinya kenangan itu hanya ku yang bisa menikmatinya dan harus ku kenang sendiri.

Asli capek banget! Mungkin ini awalnya, ku suka ketiduran kalau jalan jauh. Sendirian ja soalnya.

Masih ingat kan kalau, kue-kue yang ku beli di stasiun bandung, yang setengahnya ternyata sudah basi. Otomatis ku kekurangan cemilan dunk. Trus karena ga tahan lagi ni perut nunggu nyampe di jogja pukul 5 sore lewatan banyakJ. Mungkin udah masuk jam 6 deh tu. Siangnya di kereta ku pesan nasi goreng. Nasgor emang favorite banget deh. Ku ingin coba, kayak apa sih rasa nasgornya kereta. Apalagi bapak-bapak yang menawarkan itu legowo banget. Kebapa-an. Jawanya kerasa. Santun. Konsekuensinya, harganya tentu sangat mahal tapi mo gimana lagi, laper. Ga pa lah sekali-kali nyoba nasgor kereta. Apakah dapat menyaingi nasgor pattaya? (wahahah) tetep aja nasi goreng pattaya tak terganti. Aneh!

Setelah menunggu.. akhirnya nasgor datang juga.

Begitu ku coba. Baru ku sadari, ku telah mengeluarkan Rp 20.000 hanya untuk sepiring nasgor yang jauh tidak dapat menandingi nasgornya pattaya. Maap! Tapi, itu kan yang namanya pengalaman. J seru.

Welcome to jogja, vaa. Here you are now!

 

Akhirnya sampe juga di kosan ami. Kosan ami ternyata bergabung dengan rumah ibu kosnya. Ga palah. Tapi yang pasti, ku ga bisa lama-lama di sini. Pertama, karena ortu udah nyuruh pulang, dan bersikeras supaya ku balik ke padang bareng adek yang masih di Bandung. Kedua, ami dan hasnah tentu punya kesibukan masing-masing. Ketiga, segan juga sama ibu kosnya. Keempat, ku dah sangat ingin sekali berada di padang. Tahun dulu, gayanya aja ga mau di padang, pengennya di luar sumbar. eh sekarang belum juga sebulan, udah pengen balik aja. Bahaya nih!

Ku tak bisa jauh darimu.

Ami bilang, udah beberapa hari ini hujan mulu. Eh, ga taunya pas hari ku tiba di jogja ni, alhamdulillah tidak hujan sama sekali. Apa mungkin ada yang mawangin ya? Eit, bukan mawangin tuk ku, tapi ketika itu lagi ada acara sekatenan di keraton. Karena itu kali ya? Tak tau lah.

***

Malamnya ku diajak hasnah makan di lesehan. Nyicipin menu baru, telur bakar-tempe bakar. Asik juga rasanya. Kalau di sini, kita makan beda dengan di padang. Kalau di padang, beli makan disediain air minumnya. Nah, kalau disini beda. Kalau Cuma pesan makan, ya makan aja. Kali ini, minuman favorit ku bukan es tebu (seperti di malaysia), tapi air jeruk hangat. Wuih.. sedapnya!

Akhirnya setiap kali makan d jogja, itulah menu minumanku.

Kenyang juga nih perut.

 

Tapi ku heran, kok ku ga capek-capek ya. Mungkin mentalnnya ga capek kali yaJ. Udah malam begini masih aja nikmatin suasana malam. Untung abangnya hasnah punya motor. Dan Bisa ditebak, kerjaku banyak main-main ja. Muter-muterin jogja.

Setelah makan, kami mampir di ruang kerja hasnah dan patnerJ

sekalian ketemuan ama calon kakak ipar J sekilas, kok beda ama fotonya yang pernah ku lihat ya..? tapi orangnya baik koqJ

Kemudian kami kembali ke kosan. Setiba di kosan, duh ku langsung capek bawaannya. Pengen tidur enak ja. Capek seharian di luaran. Untung tadi udah mandi dulu.

 

Selama di Jogja

 

Hari pertama

 

Pagi-pagi kami udah bangun. Secara, hari ini adalah hari minggu. Waktu yang pas sekali untuk pergi ke UGM. Ritualnya ‘Sunday morning’ sekarang. Kalau di bukittinggi, mungkin acara maraton pagi ke jam gadang kali ya. Kalau di sini, pusatnya di UGM ini. Ih.. asik banget dah!

Awalnya Cuma berkeliling-keliling kampus UGM ja. Duh, ngak nyangka akhirnya sampe juga ke UGM. Siapa sih yang ga pengen ke sini. Kakaknya febi kuliah di sini dulu, trus pak etek salmah yang orang malaysia itu juga kuliahnya di sini dulu. Makanya ku penasaran sekali.

Pagi-pagi begini, banyak yang jualan lo. Berbagai macam barang. Kayak pasar kaget deh. Atau pasar pagi. Terserah deh apa namanya. Kami pergi berlima dengan 3 motor. Ami dengan ‘sang’nya; ‘sang’nya hasnah; dan motor satu lagi, aku dan hasnah. I’m still alone.

Seperti ku bilang, transportasi utama di sini adalah motor, jadinya ku pake celana panjang mulu. Secara hasnah lebih mantap ngboncengin belakang, daripada nyamping.

Untung ku bawa. Udah firasat soalnya.

Parkiran motor di sini juga beda. Sobekan karcis parkir itu ada di kita dan tukang parkir. Hati-hati, karcis itu jangan sampe ilang.

 

Ku diajak ke sebuah tempat. Seperti gerbang apa tu yah..? tulisannya sih tempat itu bernama masjid kampus Ugm. Tapi mana masjidnya, kok ga keliatan. Cuma nampak gapura pembukanya ja (maklum ku liatnya dari bawah). Tapi untungnya perjalanan kali ini, ami ada kamera. Jadinya, perjalanan selama di jogja kan ga percuma. Coba kalau tahun kemaren ku jadi ke jogja, mungkin kenangan itu hanya untukku seorang, karena ami lagi kkn waktu itu, otomatis ga da kamera donk.

Untuk menuju masjid, kita harus menaiki tangga dulu. Karena masjid terletak di atas bukit (ku istilahkan seperti itu saja) Begitu ku sampe di atas. Masyaallah. Masjid ini! Ku terkejut sekali.

 

Tahun kemaren, di laptop ni reflita ku melihat gambar sebuah masjid dengan khaligrafi ‘bismillah’ di bagian depan masjidnya. Kaligrafi itu berada di tengah kolam air. Halaman masjid itu luas, dipenuhi taman beraneka bunga. Ku lihat beberapa foto di laptop ni ref itu. Kemudian juga ada foto inside-nya masjid itu, plus foto lantai dua-nya dengan background kaligrafi juga.

“vaa, liat nih fotonya bagus-bagus.” Kata ni ref.

Ku tanya, “dimana nih ni?”

Ni ref menjawab ga tau, karena foto-foto ini juga dari temannya. Ku terpana melihat kaligrafi bismillah yang sangat unik itu. Sangat terpana. Duh. Ini masjid di mana ya? Bagus banget!

Bagitu melihat masjid itu setahun kemudian: sekarang. Sumpe, ku benar-benar ga nyangka. Foto-foto yang kulihat dulu itu, kulihat juga aslinya. Perjalanan hidupku lucu saja. Semakin banyak kejutan-kejutan baru yang menyenangkan.

 

“vaa.. ayuk foto..” suara ami membangunkanku.

Selepas dari masjid itu, ku bercericau saja. “duh, hasnah.. benar-benar ga nyangka vaa. Dulu vaa udah pernah lo ngliat masjid itu, tapi ga tau kalau itu masjidnya UGM. Kok bisa ketemuan di sini ya.. hehe.. duh makasih ya, udah ngajakin vaa ke sini.”

Padahal awalnya ku ogah ke sini, karena ga tau kalau di atas itu ada masjid. Ada masjid pun, menurut perkiraan ku mungkin hanya masjid biasa. Lagi pula, gerbang bawahnya digembok, sehingga ku harus merunduk supaya bisa masuk.

Ah.. akhirnya ku temukan masjid itu di jogja J

 

Hari udah mulai naik. ‘sang’nya hasnah mau ngajar. Kami pun juga pengen beli bahan buat bikin ‘samba’. Akhirnya kami pulang.

Thanks GOD! Tuk kejutan tak terduga iniJ

Setiba di kosan, kami ngrencanain mau ke mana aja. Yah, vaa bilang kalau vaa Cuma terpikir mau ke borobudur dan paris ja. Padahal kedua tempat itu masing-masing di ujung negeri. Satu di utara, satu di selatan. Jauh pastinya. Karenanya ku harus sabar menunda pergi ke borobudur esoknya. Kalau pergi ke borobudur hari minggu ini, dijamin kena tilang Rp 25.000 per orang. Maklum hari minggu sering razia, trus hasnah dan ami ga punya SIM. Akhirnya hari ini dijadwalkan pergi ke candi prambanan dan sekitarnya saja, yang tidak mungkin kena tilang polisi. Ke mana sajakah itu?

 

1. Candi Plaosan

 

Ami punya teman yang suami temannya itu kerja di candi tersebut. Lewat dia, akses kami lancar sekali masuk ke situs sejarah itu, ga bayar maksudnya. Namanya Bram (tidak nama sebenarnya). Bram ngajakin kita dulu ke candi plaosan. Katanya, candi plaosan ini banyak dikunjungi dan diteliti para arkeolog, karena status candi ini belum jelas. Digolongin candi hindu ga bisa, dikatain candi budha juga ga pas. Makanya, belum punya status jelas. Sebabnya, candi ini punya dua bentuk, persegi dan lengkung. Gimana status candi itu sekarang, ku juga ga tahu. HeheJ

Bram semangat sekali ngambil foto kami berlatar plaosan ni. Sampe-sampe dia nungging, nelungkup untuk ngambil jepretan yang bagus. Haha. Saking pengennya ngambil gambar candinya, potret kami sampe sekecil semut jadinyaJ

Plaosan ini ada dua, satu di utara dan satu lagi di selatan. Namun, nasib candi ini sama dengan nasib candi-candi lain. Udah banyak yang roboh batu-batunya, trus yang pasti juga jadi sasaran pencurian. Makanya kudu dijaga.

 

2. Candi sewu

 

Kami masuk ke lokasi candi lewat pintu belakang. Biar ga kena bayar maksudnya. HahaJ Karena pagarnya yang sepinggang digembok, ku harus manjat dulu supaya masuk. Oleh karena itu, candi yang pertama kita liat adalah candi sewu. Kalau masuk dari pintu depan, tentunya candi prambanan yang kita temui dulu.

Sebelum masuk ke sini, ketika masih di jalan di luar komplek candi. ku diperingatkan teman. Liat, cewe pake motor yang pake jaket kulit itu vaa. Kenapa?

O.. ternyata …. ! dia lagi nyari mangsa. Duh sebegitu mudah kah prostitusi berkembang di sini. Na’uzubillah min zalik.

Kata ami, candi sewu ni punya sejarah sendiri. Dulu kisahnya roro jongrang ya. Bener ga? Atau ku yang salah denger. Sewu artinya seribu. Ceritanya ada seorang yang pengen ama seorang gadis. Lalu, gadis ni mensyaratkan untuk bikin seribu candi. Nah, karena gadis ni takut lelaki tadi berhasil dengan tantangan ni. Dia mrintahin ayam tuk berkokok. Para hehalus&lelembut-suruhan si lelaki tadi mengira hari udah siang karena ayam udah berkokok, segera menghilang. Dan akhirnya candi yang siap kurang satu lagi. Si gadis menang. Haha. Menolak cowok boleh dengan cara seperti itu ya?? J ups!

Yang kulihat di setiap candi, selalu ada patung orang (digolongin orang ga sih?) yang lagi bawa palu (istilahin aja dengan palu ya). Kata hasnah sih, itu sebagai simbol penjaga. Hm… di sewu ni, patung penjaga itu juga ada. Tapi dia bersimpuh di atas batu setinggi semeteran. Lagi-lagi ku harus manjat, tuk bisa berpose dengan patung penjaga ni. Kenalkan inilah bodyguard vaa sekarang. Ga dapat-dapat juga soalnya bodyguard manusia. Hehe.. makanya semen aja jadinyaJ

Pemandangan tidak enaknya juga ada di sini. Masa’ ada juga yang ngunain tempat situs keagamaan seperti ini tuk bersenang-senang ma pacar, berduaan! Ya Allah, tu orang! Di dalam candi lagi. Ih! Dari samping kiri dan kanan, ga kan keliatan kalau di situ ada orang, tapi begitu udah di depan candi itu, baru deh keliatan kalau ada penghuninya.

Setelah itu, Bram mengajak kami ke Prambanan pake motor. Sebenarnya pengunjung dilarang pake motor di komplek candi, tapi karena kita perginya ama Bram, orang dalam candi, jadinya akses lagi-lagi lancarJ

 

3. Candi prambanan

 

Candi ini nih.. yang ku ga sangka bisa juga nyampe di sini. Biasanya ku dengar kesohoran candi prambanan Cuma di TV atau buka sejarah. Nah, sekarang ku berada di prambanan itu sendiri.

Begitu melihat deretan candi di komplek candi prambanan ini, ku teringat semua acara TV yang pernah diadain di sini. Dari konser musik, sampe latar sitkom OBJ

Tapi, kata ami. Hati-hati ke sini vaa. Jangan bareng ama soulmate, pacar maksudnya. Kalau bareng suami sih ga papa katanya. Di sini, semacam ada mitos yang dipegang erat-erat. Mitos apakah itu?

Kalau dua insan yang lagi pacaran, masuk ke candi prambanan, baik yang wisnu, siwa atau brahma-nya, dimitosin pasti putus. Mulanya temanku ini juga ga percaya dulu, eh ternyata dia putus juga akhirnya. Kebetulan kah? Tapi, ketika itu ku lihat juga ada pasangan pacaran yang lelakinya ogah naik/masuk ke candi, tapi perempuannya bersikeras pengen masuk. Akhirnya cowonya ngikut juga. Gimana nasib pasangan itu sekarang, ku juga tidak tahu.. hehe J

Untungku ku lagi ga bareng cowo or punya cowo ketika masuk candi wisnu ituJ

Ketika itu, prambanan sedang di pugar. Candi yang bisa dilihat hanya candi wisnu saja. Peringatannya sih, yang menaiki candi hanya 20 orang maksimal, tapi ku lihat pengunjung ga mengindahkan peringatan itu, termasuk ku sendiri. HeheJ

Masuk ke dalam candi itu dan berfoto. Duh.. ini patung, untung patung wisnu, bukan patung siwa. Secara wisnu kan bijaksana. Tapi yang seram tu, masuk ke candi plaosan. Ih, seram!

Seharian berjalan, belum juga membuat kaki ku pegal. Laper iya sihJ

Akhirnya karena udah puas nikmatin prambanan, kami semua balik ke rumah Bram. Nikmatin bekal yang dibawa dari rumah. Kami makan siang pukul 3 soreJ bareng keluarga Bram dengan satu isteri dan satu anaknya yang super lucu dan sangat pinter bahasa jawa halus, plus anak ibu kos ami. Anak Bram bikin ku bingung dengan kata-kata yang diucapinnya. Kecil-kecil udah bisa bahasa jawa halus, padahal kata orang kan susah banget. Tante vaa jadi bingung maksudnya apaanJ Ami lah akhirnya yang jadi penerjemah, soalnya udah lama di jogja, dia udah mantap bahasa jawanya.

 

4. Desa korban gempa

 

Selepas makan siang menjelang sore itu, ami ngajakin ke desa korban gempa, yang ia istilahin dengan desa teletubies. Kenapa begitu? Karena bentuk rumah di desa -yang sangat jauh dari kota itu- berbentuk seperti rumah orang di irian yang atasnya bulat. Dahulu, ketika terjadi gempa jogja, semua bangunan di desa ini melempem ke dalam bumi. Rata dengan tanah. Lalu, dengan bantuan Amerika di sini diganti dengan dibangunnya kompleks perumahan yang tahan gempa. Ya, begitulah bentuknya seperti tumah teletubies. Di sini, lengkap fasilitasnya; dari mushalls, puskesmas, dan taman kanak-kanak.

Meskipun dari luar kelihatan seperti bangunan satu lantai saja. Namun, ketika masuk ke dalamnya ternyata bangunan ini dua lantai. Lantai bawah punya satu ruangan lepas, dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi. Di lantai atas baru, ruangan keluarganya. Ketika isteri Bram ikut naik ke lantai dua rumah itu, terdengar suara anaknya manggil, “Ibok..!!” anaknya ketinggalan di bawah. Keasikan main sih tadiJ

Mata pencaharian orang di sini, banyak yang jualan di rumah itu. Mungkin mereka mengharapkan kalau orang yang berkunjung ke situ berbelanja di tempat mereka kali ya. Karena keunikan bentuk rumah itu, tempat itu juga bisa berfungsi sebagai tempat wisata.

Bram sekeluarga sepertinya senang sekali di sini. Soalnya ada permainan di taman kanak-kanak itu.

Bis tu, kita mampir dulu ke pasar lewat malioboro. Ami mau nanyain seprai bermotif MU atau AC milan ya. lupa. Karena laper, ku beli martabak bandung. Wuih.. enakJ

Selepas di sana, kita langsung pulang. Dah sore banget. Hasnah kelihatannya dah capek. Moga ia masih punya sisa tenaga tuk ke borobudur besok. Ah! Andai ku dah bisa bawa motor, kan bisa nggantiin hasnah. Apalagi ternyata perjalanan hari kedua ni: 5 jam pulang balik pake motor. Ya ampun, hampir sama dengan padang-bukittinggi bolak balik. Tanpa istirahat. Yang capek pastinya hasnah, karena dia yang bawa motor. Ku pun juga capek, soalnya baru kali ni nyoba boncengan sejauh itu. Di padang, ku juga pengen nyoba bonceng ma adek rute padang-bukittinggi. Tapi ga kesampean mulu. Pertama karena keliatannya emang jauhJ Kedua, adekku bawa motor dengan kecepatan masyaallah. Males! Ngebut banget! Kerjaku pasti teriak-teriak ja ntar.

Eh.. ga taunya. Pengalaman itu ku temui di jogja J tapi karena hati lagi bahagia, capek ga kerasa jadinya.

 

Hari kedua

 

TKL

Pagi-pagi kami mulai ritual dengan masak dulu. Buat bekal di borobudur. Ku juga sempetin nyuci baju. Jam sebelas-an kami berangkat. Berempat orang dengan dua motor. Ku, hasnah, ami dan ‘sang’nya.

Awalnya ku pikir, borobudur itu ga jauh-jauh amat keluar dari jogja. Ternyata udah jauh amat, di Magelang, Jawa Tengah. Trus planning awalnya, sebelum ke borobudur, kami mampir dulu ke Taman Kyai Langgeng (TKL). Kalau dari namanya, emang sedikit aneh. Tapi itu hanya sekedar nama. Taman itu sebenarnya lebih mirip benteng-kebun binatang-nya bukittinggi. Tapi, bedanya taman kyai langgeng ditata dengan sedikit rapi dan komersilJ

Yang terkesan sekali dengan kata ‘mampir ke TKL’ ini adalah hasnah. Soalnya, dari kosan hasnah dan ku udah sangat siap sekali untuk naik roller coaster di sini. Eh, ga taunya setiba di sini, wahana itu ga buka. Mungkin karena pengunjung ga terlalu banyak, jadinya wahana itu ga dioperasikanJ terlihat plangnya memberi peringatan: kalau anda tidak begitu siap, jangan paksakan naik. Sejurus hasnah nyeletuk, kami udah sangat-sangat siap kok. Haha.. hasnah pasti kecewa banget, soalnya dia capek-capek bawa motor sejauh itu, Cuma untuk ‘mampir’ aja. Duh.. mampirnya kok jauh amat. Di TKL, kami shalat dan makan siang. Ternyata tempat ini, bersejarah banget buat ami dan ‘sang’nyaJ

Karena wahana yang ditunggu-tunggu ga buka juga. Kami memutuskan segera ke borobudur saja. Wait me, borobudur.

Ada cerita lucu ketika balik dari TKL ni. Motor kami terpisah jauh dengan motor ami. ‘sang’nya khawatir karena motor kami ga keliatan, dia berinisiatif untuk balik. Ketika itu pas perempatan lampu merah. Ketika lampu hijau dah nyala, motor hasnah ngadat, mati mendadak, dan tuk ngidupinnya susah. Eh, lampu hijau dah ganti lagi dengan lampu merah. Cepet banget. Ketika dah lampu hijau lagi, ku n hasnah udah berada di jalur ami tadi, namun ku liat ami udah balik menuju ke simpang kami mogok tadi. Tapi karena itu di perempatan, ia terjebak lampu merah. Awalnya kami nunggu ami, tapi karena setelah itu ami melaju terus, kami juga ikutan kesono. Haha. Padahal dia Cuma mutarin motor ja. ‘sang’nya ami bilang gini, “jangan bilang, kalau mereka juga ikut kesini!!!”

Kenyataannya kami memang ngikutin mereka, dan terjebak lampu merah lagi. Haha. Bener-bener lucu tu kejadian. Kalau diberi judul, cocoknya muter-muter di perempatan lampu merah. HahaJ

 

BOROBUDUR

Akhirnya keliatan juga plang: selamat memasuki kawasan borobudur. Tapi, ternyata borobudur masih jauh, kira-kira 15 menit perjalanan lagi.

Sebelum pergi, ami bilang lebih baik pake kaos kaki, sarung tangan, dan ngehindarin pake baju yang berwarna hitam. Karena kalau panas benget ntar di borobudur, kita ga terlalu gerah. Payung pun dah kami siapin dari kosan tadi. Dan di sini emang banyak ibuk-ibuk yang nawarin jasa payung. Berarti menurut kebiasaan, di sini memang panas banget.

Tapi alhamdulillah saja, ketika ku sampe di borobudur ni, matahari ga terlalu terik. Padahal itu sekitar jam 3 siang lho. Entahlah, cuaca bersahabat saja rasanya denganku. Seandainya ketika itu matahari lagi teriknya, ku pasti udah gosong dan kepanasan. Karena ku pake celana hitam, tidak berkaos kaki atau pun sarung tangan, apalagi payung.

Borobudur Cuma buka sampe pukul 5. otomatis sebelum pukul 5 kami sudah harus tiba di bawah. Duh.. ketika itu. Wisatawan korea juga ada di borobudur lho. Mm.. coba aja ketika itu satu dari mereka ku ajak ngobrol. Pasti seru! Kapan lagi punya temen orang korea. Mereka datang berkelompok, dengan dipandu pemandu, mereka melakukan ritual kayak tawaf (dalam haji). Entah berapa kali mereka mengelilingi stupa paling atas itu. Karena mereka lagi tawaf itulah, makanya ku ga tega nyapa.

Di ketinggian borobudur ni, ku kembali tersadar. Bahwa Allah pasti mendengar apa yang terbersit di hati kita. Ku sudah pengen ke borobudur ni sejak pertama kali ku kenal borobudur, artinya itu sejak sekolah dasar. Ketika tahun 2004, ku diizinkan Allah ke Semarang, ku memang juga ada niat mau ke borobudur plus ke jogja. Wong, kata teman di Semarang waktu itu, jogja deket kok dari Semarang. Eh ga kesampean, karena ku mesti segera pergi dari Semarang ke Jakarta. Ya udahlah, ga jadi ke jogja.

Tahun 2008 ku juga dah rencana mau ke jogja, apalagi ami dan hasnah dah ngajak ke situ, tapi ga kesampean karena ku sakit berat. Nah, baru tahun 2009 lah keinginan itu dikabulkan Allah. Dan sekarang ku telah berdiri di salah satu keajaiban dunia itu. Alhamdulillah. Ku nekat juga ya. Sendirian dari bandung ke jogja Cuma tuk ngejar borobudur. HahaJ

Thanks a lot ya hasnah, ami n ‘sang’nyaJ

Bukti lagi, kalau cuaca mendukung banget. Baru saja kami nyampe di parkiran. Gerimis sudah turun, hujan lebat pun datang. Untung di atas tadi ga hujan. Coba kalau hujan, ku kan ga bisa mengabadikan momen itu. Alhamdulillah. Ami minjamin mantelnya ke ku. Thanks ami. Kalau ga gitu, kami mungkin ga nyampe-nyampe di kosan. Terjebak hujan juga mungkin.

Malamnya ku, hasnah dan ‘sang’nya hasnah makan bareng di lesehan lagi. Bukan di tempat sebelumnya tapi di tempat lain, deket rel kereta. Pas kami makan, eh ada kereta yang lewat. Hiiii… seru juga. Backsoundnya bunyi kereta. Romantis dalam bentuk lainJ Dan menu minumannya air jeruk hangat dunkJ kali ini, ku yang traktir. Sebagai ucapan terimakasih karena udah nemenin ku selama di jogja, plus terimakasih tuk kesediaan hasnah mengorbankan bisnisnya terkorbankan beberapa hari ni. Dan juga sebagai pamitan, karena rabu ku mau balik ke bandung, sekaligus langsung balik ke padang.

 

Hari ketiga

 

Paginya kami masih terkulai di tempat tidur, karena capek perjalanan kemaren. Rencana awal yang seharusnya kami dah pergi ke pantai paris, ga jadi. Capek. Apalagi hasnah. Jadinya, pagi itu Cuma istirahat. Siang, ku keliling kampus UIN dulu. Setelah itu baru ke pasar. Ga naik motor lagi, tapi naik bus transjogja.

Kami Cuma pergi ke ambarrukmo. Beli oleh-oleh ja. Duh, padahal di situ gudangnya batik, tapi ga satu pun batik yang bisa ku beli. Bukan karena banyak pilihan, tapi ada sesuatu hal yang bikin hati ku ga tenangL akhirnya ku hanya beli oleh-oleh tuk keluarga. Tuk ku sendiri, ga ada! L

Malamnya, ku keluar lagi bareng hasnah. Tuk beli tiket kereta, trus beli salak pondoh 4 kilo. Hehe. Paling suka soalnya, padahal di bandung juga ada orang yang jual deh. Jangankan di bandung, di padang juga ada. Ada-ada aja! Padahal berat bawanya!

Andai ku tahu, hari ini tak jadi ke pantai, ku pasti bela-balain balik ke bandung hari ini juga. Sungguh, ku dah ingin segera balik ke padang.

 

Waktu pulang tiba

 

Ku Ngambil tiket pagi juga jadinya. Perjalanan malam terlalu berbahaya rasanya.

ketika berangkat dari kosan, juga ada cerita lucunya. Ku udah lewat beberapa lampu merah. Ternyata, baru sadar ku ga pake helm. Astagfirullah, padahal di lampu merah tadi ada polisi deh. Tapi alhamdulillah ga kena tilang. Hehe. Akhirnya ami yang njemput helm ke kosan. Mungkin udah pengen segera tiba di bandung, ku ga kepikiran helm lagi. Hehe.

Berbekal makan pagi sedikit. Bismillah. Moga selamat sampai bandung. Jadwal kereta berangkat jam 9, tapi ku udah nyampe stasiun jam 8. lagi-lagi menunggu.

Setelah pamit pada hasnah, ami dan ‘sang’nya. Ku masuk ke stasiun. Ah. Terimakasih banyak teman-temanJ

 

Daripada bengong sendiri di ruang tunggu. Ku beri senyuman hangat ke seorang perempuan yang sedang memangku anaknya. Beneran deh. Perempuan sekarang tangguh-tangguh. Perempuan itu udah menggendong anaknya, masih juga bawa barang banyak-banyak. Salut ku jadinya. Setelah cerita panjang lebar, eh ternyata, mbak-mbak itu orang minang juga tapi hanya dari ibunya saja. Sedangkan bapaknya orang jawa. Trus dapet suami orang jawa juga. Denger orang pake bahasa minang dia ngerti, tapi untuk ngomong dia ga bisa. Ketika ku bilang ku aslinya maninjau, si mbak bilang dulu mantannya juga orang maninjau. Bgitukah?! Tapi enak juga ngobrol ama mbak ni, cepet akrab ama orang. Sayang dia mau ke jakarta, jadinya dia duluan berangkat. Selamat jalan mbak.

 

Di ruang tunggu itu, tinggal ku dan dua orang bule. Gimana ngmulai pembicaraannya yah..? menurut teori kalau dua orang bule sejenis pergi berpetualang, biasanya mereka itu gay. Benarkah teorinya seperti itu? Tak tau lah. Tapi yang satunya kelihatan lebih anggun sihJ maap!

Ku tanyain ja, “sorry sir, what time is it now..?” soalnya ku memang ga punya jam, hilang entah di mana. Sampe sekarang pun belum ada gantinya. Jam di hp – pun ga akurat, soalnya hp sering dilepas baterainya pas nge-cas.

Nah, dari situlah terbuka pembicaraan dengan dua bule itu. Yang bicara panjang lebar, tentunya yang kemayu itu. HeheJ

Kami sama-sama naik kereta lodaya, bedanya mereka kelas eksekutif, aku kelas bisnis. Ketika ku tanya gimana rasanya naik kereta di indonesia. Wah so excited banget katanya, soalnya sangat murah biayanya jika dibandingin di london. Secara mereka orang england. Kalau di sono, untuk tiket berdiri aja, sampe sejuta. Bener ya? Kalau di sini udah murah, pelayanan istimewa lagi. Trus view selama perjalanan sangat mengesankan. Yah, begitulah indonesia. Harus ku akui pemandangan selama di kereta memang sangat indah.

Mereka selepas bandung mau pergi ke palembang, mungkin pengen liat jembatan di sana kali ya. Trus abis itu mau ke kuala lumpur. Hmm.. ga ke padang donk berarti.

Orang-orang udah bingung ja ngliat ku, cewek pake jilbab sedang, ketawa-ketiwi ama dua orang bule. Ah biar sajalah!

Mereka ku ajak makan salak pondoh, eh mereka ga mau. Mungkin takut dibius, trus diambil dolarnya kali ya. Emang ku punya tampang kriminal apa. HeheJ

kereta lodaya tiba. Kami pun berpisah.

Nice to see you both.

 

Di kelas bisnis, ku juga ketemu bule, tapi perempuan. Dia kesulitan nyari kursinya. I said, “here miss”. dia balas dengan bilang ‘terimakasih’ plus senyuman persahabatan. Oo.. berarti dia udah lama di Indonesia berarti. Pantesan ga pake kelas eksekutifJ

 

Perjalanan kali ini, ku hanya sendirian di bangku kereta itu. Kemudahan lagi yang diberikan Allah.

Karena ku ga sempat bawa cemilan, salak pondoh akhirnya yang ganti posisi jadi camilan. Sekiloan mungkin habis olehku sejak pukul 9 itu sampai sore hari setibanya di bandung. HahaJ dasar ga belajar dari kesalahan. Kali ini pun ku ga bawa nasi. Karena kemaren dah nyoba gimana rasa nasgornya. Kali ini ku gak mau lagi menu itu. Kali ini ku nyoba mie goreng ja deh. Barangkali ja harganya murahan dikit. Ku juga nyoba air jeruk anget-nya lho. Wah segitunya. Mie-nya enak koq sama lah dengan mie biasa, yang istimewa tu harganya. Haha. Emang dahsyatJ mahal!

Perjalanan jogja-bandung lebih lama daripada bandung-jogja. Kalau kemaren jam 5 sore ku dah nyampe di jogja, kali ini ku baru nyampe di bandung jam enam. Ku coba lagi pergi ke toilet stasiun, tempat sabun cair ku ketinggalan kemaren. Eh udah gak ada. Biarin deh. Ikhlas, padahal tuh botol sabun cair udah bertahun-tahun usianyaJ ternyata harus jadi tumbal di bandungJ

Karena udah maghrib, ku shalat di stasiun dulu. Setelah shalat, ku segera nyari angkot ke gerlong, rute kalapa-stasiun hall. Duh.. angkotnya lama lagi. Aman ga ya, malam-malam gini sendirian di bandung?? Ya Allah, guide me please!

Jam tujuhan ku sampe di simpang gerlong, karena di jalan macet.

Dari simpang gerlong, ku harus berjuang menyeret kedua kaki ni tuk jalan sampai ke kosan adeknya ayu. Perjalanan seharian tu walaupun Cuma duduk aja, bikin kita capek juga.

Btw, persediaan salak pondoh ku Cuma tinggal 3 kiloan. Satu kilo habis dalam perjalananJ setengah kilo buat di kosan adek ayu. Setengah kiloan lagi tuk ‘nyuap’ ibuk kosJ soalnya ku numpang idup sementara di sini. Jadi tinggal 2 kiloan lebih. Itu tuk oleh-oleh, buat diri sendiri, hehe.. karena setiba di bukittinggi, salak pondoh yang tersedia hanya satu kiloan lebihJ setengah kilo udah nyinggah dulu di kosan di padangJ bagi-bagi rejekiJ

Jika di follow up. Rencana ku yang ga kesampean adalah pergi ke tempat wisata di bandung, ke jatinangor, ketemu febi dan andi. Kalau ke jogja: ga jadi pergi ke pantai paris, dan borong batik jogja. Satu lagi, rok hitam kesayanganku pake tinggal lagi di kosannya hasnah. Ha.. ini kali pertanda kalau someday ku kan kembali ke bandung dan jogja. (maen-mania banget).

Tapi, tuk kembali ke jogja, ku takut membayangkannya. Ada firasat yang tak diinginkan bermunculan. Mungkinkah??

***

Padang, i’m comin’

 

Seorang cewe obsesif

 

Masih cerita di bandung. Di kosan sini, ku bertemu dengan sebuah realiti cinta.

Cinta butuh saling pengertian. Tapi, ia juga tidak bisa dipaksakan.

Itulah yang terjadi pada salah seorang warga kosan situ.

Ketika pertama ku nginap di bandung ini, malam-malam itu udah terdengar suara orang bertengkat hebat dengan pacarnya, meski lewat telfon aja. “kamu kenapa jauhin aku?” begitu katanya sambil teriak, mengerang. Tidak terima kalau cowoknya menjauh.

Ah.. cinta!

Terdengar tangis terisak. Kejadian seperti itu udah sering terjadi, jadi warga kosan sini udah maklum ja. Ku hanya prihatin ja dengernya. Udah toh neng, kalau cowo tu ga mau lagi, ya udah. Jangan nyiksa diri kayak gitu. Kalau seandainya cowo itu masih mau, ya jangan pake marah-marah di telfon dunk. Cowo mana yang ga bete jadinya.

 

Balik dari jogja, ku nginap dulu di bandung, Cuma dua malam saja.

Malam kedua ku di bandung, adek kos itu menangis lagi sambil teriak-teriak di telfon. Terdengar ada yang pecah, mungkin gelas atau piring barangkali. Duh, segitu banget parahnya tu cewe. “ayu, denger ga adek tu bermasalah lagi.” Tanya ku pada ayu.

Kalau dibayangkan, mungkin adegannya ketika itu sama dengan yang di film-film atau sinetron. Kesal sama orang, pelampiasannya ke benda-benda yang ada di sekitarnya. Karena seperti di sinetron, ku terkena sindrom juga akhirnya.

“dek, dia kalau kayak gitu sampe bunuh diri ga sih?” ku terlampau paranoid dengan bertanya pada warga kos lainnya. “ga kok teh, Cuma lempar-lempar barang itu ja. Nanti juga baik. Tapi memang sih, kayaknya ni berantem yang paling hebatnya.” Jawab adek tu ringan. Emang dia udah biasa kayak gitu, berantem ama cowonya. Jadi orang di sini udah paham-paham aja. Udah berapa kayak gitu sih??!!

Kasihan dia! Tapi kita ga bisa ikut campur dan masuk dalam permasalahan ini, karena yang bermasalah sendiri tidak mau membaginya. Ia menghadapi sendiri. So, kita pun angkat tangan.

Kasihan dia karena terlalu diperbudak cinta, cinta yang belum tentu untuknya.

Jauhkanlah ku dari hal seperti itu Tuhan.

Hati ini ikut teriris ketika dia mengerang malam itu.

Hei lelaki, jagalah hati kami para perempuan.

Kasihan ngliatnya.

 

Seorang calon psikolog gengsian

 

Udah habit bagi ku tuk pake pakaian nyantai. Lalu apa salah jika ku make sandal jepit naik eskalator, pergi ke ciwalk atau berlalu lalang di kota bandung ni dengan hanya make sandal jepit yang warna sandalnya ga seirama dengan pakaianku..??

Ga salah kan??

Ih.. banyak manusia seperti itu di bumi ini ya..?

Padahal dia mahasiswa psikologi, setidaknya lebih bisa memahami orang lain deh. Ini kok malah ga. Ketika temannya yang make sandal jepit pergi ke BIP misalnya, dia bilang gini, “eh, ga boleh make sandal jepit ke BIP teh.” Temannya itu percaya lagi. Ada-ada ja.

Setidaknya dia ga berani la ngomong gitu padaku. Mmm.. coba aja kalau beraniJ

Banyak yang ingin ku ceritakan tentang perempuan satu ni.. but kayaknya butuh bab khusus. Yakin deh, banyak pelajaran yang bisa diambil.

Mulai dari hubungannya dengan seorang katolik (padahal dia anak tokoh agama muslim), sempet stres gara-gara ditinggalin cowoknya yang katolik itu, trus matre, n gengsian banget jadi orang. Mungkin sebabnya karena secara ekonomi, ia termasuk keluarga yang high level juga kali ya..? jauhiku dari sifat seperti itu ya Allah.

 

Seorang pemuda buta

 

Pagi ini, ku siap-siap meninggalkan bandung, tuk terbang ke padang. Ku ga singgah dulu ke jakarta, tempat keluarga. Capek!

Kemaren ku dah ngambil tiket promo lion air, tapi berangkatnya jam tujuh malam. Gimana ya? Perjalanan malam lagi. Tapi selama ini, ku memang belum pernah-pernahnya nyoba naik pesawat malam. Yang ada tu, paling hanya pesawat berangkat subuh, ntar nyampenya udah terang. Kali ini kan kalo ku berangkat pukul tujuh malam, nyampenya di padang kira-kira jam sembilan lewat. Aman ga ya?

Kalau ku ambil tiket siang, mahal amat. Uang ortu ni yang bakal jadi korban. Gimana ya..? tiket promonya Cuma ada tuk malam hari.

Ku sengaja ga telfon ortu, karena kalau minta izin dulu ma ortu udah pasti ga dibolehin naik pesawat malam. Ku sebenarnya sangat ingin nyoba pesawat malam. Yang mesti ditelfon sekarang adalah adek. Dengan sedikit taktik dan kata-kata permohonan yang sesopan mungkin supaya bisa menjemput ku pukul 9 malam ke ketaping. Akhirnya dia langsung bilang, “aman my sist.” Masalah beresJ Pas ku telfon ortu ngabarin kalau ku dapet pesawat malam, seperti yang diprediksi, ortu khawatir banget. Komplain sebenarnya, kenapa ngambil tiket malam??? HahaJ tapi ga bisa diapa-apain lagi, wong tiketnya jenis tiket hangus, ga bisa diganti lagi. Hehe. Sorry momJ ku pengen sekali nyoba pesawat malam.

Abis tu nyari travel tuk ke bandara. Alhamdulillah udah dapat. Tapi berangkatnya ini, ku ambil yang pukul 13.00. kecepetan banget! Abis belum tahu berapa lama dari bandung ni ke bandara. Jadi ku meneteng-neteng koper dan barang lainnya dari kosan adek ayu ke simpang gerlong yang jaraknya lumayan jauh. Ketika itu, roda koperku jadi korban karena muatannya kelewat berat. Buku aja sih isinya! Buku tes kerja maksudnya.

 

Setiba di simpang gerlong, ku harus naik angkot dulu biar nyampe di travel x-trans. Tapi belum lagi nyeberang, ku distrap oleh seorang pemuda buta.

“teh..! teh..!” dia manggil ke arahku, bukan ke arah ayu.

Ku yang linglung bawa koper berat seperti itu, berhenti menjawab panggilan pemuda itu. Koper ku titip pada ayu dulu. Ku seperti berada di acara televisi ‘minta tolong’ jaJ

‘ada apa bang?” kayaknya pemuda buta itu lebih tua dari ku.

“mau ke DT! Mau ke DT.”

“oh, abang mau ke DT, jalan ke dalam aja bang. Teruuus aja ke dalam. (dasar ku oon. Dia kan ga bisa liat, mana ngerti) Jauh juga sih. Pake apa bagusnya ke dalam ya..?” ku bertanya sendiri.

“ojek teh, 2000.”

“oh.. mau naik ojek. Bentar saya panggil dulu ya.”

Lama juga tuh ojek nyampe sini, mungkin dia tahu kali ya, kalau yang bakal naik orang buta. Ih.. dasar.

“bang, ke DT ya.” Kata ku pada tukang ojek.

Pemuda buta tadi masih kebingungan harus berjalan ke arah mana menuju ojek tadi. Ku hanya berlaku seperti tukang parkir terhadap pemuda buta tadi. Jalan lurus aja bang, abis tu belok kiri, dan seterusnya. Bla… bla… Eh, si abang malah ke tabrak tembok.

Duh gimana caranya. Ku sama sekali ga terpikir untuk menyentuh lengannya, yah meskipun si abang pake baju lengan panjang. Akhirnya ada adek laki-laki yang akhirnya menuntun abang buta tadi naik ojek. Dia kayaknya kesal ngliat ku ga memapah abang tadi.

Yah, gimana dunk. Bukan ku jijay, Abang tadi hukumnya kan sama juga dengan laki-laki normal biasa, ku refleks dan otomatis saja tidak mau memapahnya. Berdosakah ku Tuhan tidak memapah abang buta tadi?

Tapi ku ucapkan terimakasih juga pada adek yang nolongin abang buta tu.

Si abang udah naik ke motor. Baru teringat oleh ku, abang buta tadi nyebutin ‘ojek 2000’ itu mungkin karena dia ga punya duit kali ya.

Dia Cuma bilang kalau mau ke DT, buat shalat jum’at barangkali dan mungkin mau ketemu aa gym. Entah darimana abang tadi berasal, entahlah. Aneh juga sebenarnya.

Ada gitu ya, orang bela-belain buat shalat jum’at di DT. Udah ga bisa liat, jalan ke situ pun ga tahu. Semangat betul.

Tapi segera ku beri abang tadi 2000 rupiah. Buat ongkos ojek. Gak ku lebihin, ntar ditilep tukang ojek lagi. Kalau buat si abang mah, ga papa.

Duh… siapa pun orang gerlong atau orang DT yang mengenal pemuda buta tadi, sampaikan maaf ku karena tidak memapahnya. Sungguh alasanku bukan karena jijay dengan keterbatasan fisiknya. Tapi, semata-mata karena ku menganggapnya sama dengan manusia lainnya yang dihukum mukallaf. Tidak lebih.

Ku pikir-pikir, kenapa Tuhan mempertemukan ku dengan pemuda buta tadi? Sejak dari kosan, ku dah pengen nyater taksi karena koper dan barang ku berat banget. Tapi ga jadi. Eh, ga taunya di ujung jalan ku bertemu pemuda buta yang harus ku tolong.

Nekat juga tu si abang. Oncong-oncong sendirian ke DT. Kira-kira ia berasal dari mana ya?

 

Seorang ibu asli kupang beragama katolik

 

Ku nyampe di bandara jam 3 lewat 15 menit. Kecepetan banget. Check in-nya pukul 5 sore. Trus take of-nya pukul 7 malam, itupun kalau ga di delay. Duh.. kemaren aja nunggu satu jam setengah di stasiun udah lama banget rasanya, nah sekarang nunggu 4 jam, masyaallah. Perkiraan ku meleset jauh. Awalnya, ku berpikir siapa tahu ntar di jalan macet. Tapi, lihatlah jam 3, ku dah nyampe di bandara.

Kebetulan ada teman bareng dari bandung, yang naik travel itu juga. Dia naik lion juga tapi tujuannya mataram rasanya. Dia mahasiswi UIN SUKA. Kakak ikut saya ja. Oke deh kalau gitu.

Secara kalau soal berangkat dari bandara rute jakarta-padang, ku belum pernah. Seringnya Cuma padang-jakarta. Ruang tunggu ku dan adek tu berbeda. Jadi, kami berpisah setelah itu. Lagipula, ku belum shalat zuhur dan ashar. Trus lagi, perut ni udah keroncongan.

Setelah shalat, ku berencana menyantap makan siang. Tapi gimana caranya, ku lupa bawa sendok lagi. Akhirnya yang bisa diandalin dalam situasi genting seperti ini, hanya enam pisang karamel yang ku beli di gerlong tadi. Cukup memadai juga sih.

Pisang karamel udah abis, mo ngapain lagi ya. Masa’ bengong sih.

Akhirnya, ibu-ibu yang duduk di sebelah ku sedari tadi angkat bicara.

“mau kemana?” khas dengan logat daerahnya.

“saya mau ke padang bu.” Plus senyuman hormat. Yang penting ikhlasJ “ibu mau kemana bu?”

“mau ke kupang”

“o, kupang! Sendirian aja bu?”

“iya, saya ke jakarta mengurus trankrip nilai anak saya, kemaren dia lulus cpns di atambua. Makanya, sekarang saya datang ke jakarta.”

“nanti nyampe kupang jam berapa bu? Ga da yang jemput?”

“saya sudah biasa. Sampai di jakarta kemaren pun malam, saya sendiri saja. Apalagi di kupang.” Wah.. superwoman nih si ibu. Dari tadi, ibu ini tidak pernah menyinggung cerita tentang suaminya. Single parent kali ya??

Karena ibu ni berasal dari kupang, ku pengen juga sih nanyain agama ibu itu. Tapi ga usahlah, isu sensitifJ

Lalu, ibu itu cerita kalau kakaknya sudah masuk Islam, dan begitu juga keluarga kakaknya itu.

“saya beragama katolik, dan kakak saya sudah Islam.”

“ya.. tidak masalah bu. Saya menghargainya.” Ku selipkan doa untuk ibu itu, semoga hidayah Allah sampai padanya.

Ku ceritakan juga perihal ku ke jakarta sekarang ini.

“mohon doanya ya bu, semoga saya lulus.”

“iya, saya doakanlah, semoga anak lulus kerja ya.. ha..” masih dengan logat kupang.

Tak terasa waktu udah nunjukin pukul setengah enam. Ibu itu harus masuk pesawat.

Senang berkenalan dengan ibu. Mungkinkah ku bisa sampai ke kupang, bertemu kembali dengan ibu atau ke atambua sekalipun??

 

Seorang perempuan makassar

 

Satu lagi sosok perempuan mandiri yang ku temui. Ia seorang perempuan paruh baya yang membawa begitu banyak barang.

“dek, saya nitip barangnya dulu ya.”

“ya bu, ga ada barang berharga kan?” tanya ku menggoda.

Malam-malam begini, banyak juga kok perempuan-perempuan yang berani berjalan malam. Selain ibu itu, juga ada uni Mira, namanya. Dia mau ke padang juga. Tamatan al-hikmah. Eh, begitu ku sebut nama maisal. “oh, iya, uni kenal” berlanjut ke deretan nama alumni sekolahku dulu yang dikenalinya semua.

Dia jilbaber, berjalan malam, dan pergi sendirian. Setidaknya, banyak lah teman seperjuangankuJ maksudnya yang pergi sendirian.

Tidak berapa lama setelah itu, si ibu yang punya barang kembali.

“ibu mau ke mana bu?”

“saya mau ke makassar” jawabnya tersenyum.

Lihatlah, malam-malam begini. Ibu itu take offnya malah pukul 8 malam. Nyampe di makassar jam berapa berarti ya?

Ibu itu cerita soal keperluannya di jakarta dan ku juga cerita kepentinganku di jakarta.

“ya, ibu doakan semoga kamu lulus ya.”

Wah.. semakin banyak orang yang mendoakan niJ

Ku pamit duluan pada ibu itu. Karena gate-nya udah buka.

Semoga ku juga bisa sempet jalan-jalan ke makassar suatu saat nanti. Gila! Maen-maen aja nih isi kepalanyaJ heheJ

***

Cuaca malam itu tidak terlalu bagus untuk lalu lintas pesawat. Pesawat sering batuk-batuk, bikin jantung ku bergetar saja. Duh, cepet donk sampe padang.

Setiba di padang, untung adek ku dah nunggu. Katanya, flight ku adalah yang terakhir. Pantesan sepi orang.

Ketika lagi nungguin barang di bagasi pesawat, eh seorang sahabat calling me. Kontak batin kali ya kalo ku dah balik.

“akum, ‘bat..”

“lagi di mana vaa..?”

“ini lagi di ketaping.”

“ketaping? Ketaping mana?”

“KETAPING MANA LAGI..! YA DI BANDARA KETAPING DERI..!”

“o… oho… di katapiang.” hahahaha

Dasar! Kalau katapiang baru nyo tauJ hahahaha

 

Dulu balik dari malaysia ku juga begini. Papa nanyain ku udah nyampe mana. Ku jawab, “di cingkaring pa.” Halah! Papaku dan semua orang yang ada di mobil kampus ku ketawa semua.

“o. Lah di cingkariang” lanjut papa. HahaJ

***

 

Telah ku jelajahi dunia

Namun di hatiku tetap dirimu yang bertahta

 

***

Bromo – Hari 6


katanya mau jemput jam 11 malam, tapi ternyata jam 1 dini hari.

dilema mau ikut ke Bromo, apalagi nanti naik jeep, melewati Pasir pula, kebayang wisata gurun di Arab :p (lebay)

tapi, masa udah nyampe Malang, ga kesampean juga ke Bromo.

akhirnya pergi juga, pengen liat gunungnya aja.

03.00 nyampe di Cemoro Lawang (Kali) disana tempat nukar mobil dengan jeep menuju penanjakan

04.00 nyampe di penanjakan, tapi gegara macet, musti jalan 2 km lebih menuju penanjakan 1 atau bukit kingkong.

aku ga ikut.. pokoknya meminimalisir letih & persiapan mental naik jeep lagi melewati pasir. awalnya ga mau ikut jeep, tapi takut tinggal sendiri.

06.00 seharusnya jeep sudah mengarah ke savana, berhubung ini sharing tour jadi nunggu 3 orang lain yang sampai sekarang belum turun juga.

06.35 turun ke penanjakan 2. akhirnya sempat juga ngliat gunung dari dekat.

07.30 savana

08.30 pasir berbisik

09.30 Kawah Bromo tapi ga sampai kawahnya (gapapalah)

11.30 turun kawah

12.00